Denpasar,  (Antaranews Bali) - Sebanyak 22 pemuda-pemudi terpilih dari 10 negara anggota ASEAN "belajar" mengenai toleransi dan keberagaman di Bali, serangkaian kegiatan "ASEAN Youth Interfaith Camp (AYIC) 2018".
       
"Dipilihnya Bali sebagai tempat kegiatan ini karena merupakan wajah toleransi,wajah keberagaman, termasuk masyarakatnya menjunjung tinggi kehidupan beragama. Sehingga ini merupakan salah satu model yang patut disebarluaskan kepada para pemuda di ASEAN," kata Direktur Kerjasama Sosial Budaya ASEAN Kementerian Luar Negeri Riaz Saehu, usai menjadi 'keynote speaker" dalam seminar di Universitas Hindu Indonesia (Unhi) Denpasar, Jumat.
       
Kegiatan AYIC 2018 tersebut merupakan kerja sama antara Kemenko PMK, dengan Kementerian Luar Negeri dan Kementerian Agama. Sebagai bagian dari rangkaian kegiatan AYIC 2018, diselenggarakan seminar untuk membahas implementasi "ASEAN Culture of Prevention" di kalangan pemuda.
     
Tahun lalu, inisiatif ini telah diresmikan oleh para pemimpin negara ASEAN melalui dokumen ASEAN "Declaration on Culture of Prevention for a Peaceful, Inclusive, Resilient, Healthy and Harmonious Society" pada pertemuan KTT ASEAN ke-31 di Manila. "Tujuannya untuk mempromosikan rasa saling memahami, saling menghargai, termasuk menghargai budaya dari berbagai daerah," ujar Riaz.
     
Pemuda-pemudi yang menjadi peserta AYIC 2018 juga merepresentasikan berbagai agama, dan diharapkan suatu saat dapat menjadi calon pemuka agama. Dengan telah mempunyai jejaring, di kemudian hari ketika ada masalah mereka sudah bisa saling memahami.
     
Terkait seminar yang diselenggarakan di Unhi Denpasar merupakan kedua kalinya dalam rangkaian kegiatan AYIC 2018. Sebelumnya seminar yang pertama telah dilaksanakan di Yogyakarta.
     
"Kami memilih pelaksanaan seminar di Unhi Denpasar karena selama ini banyak melakukan aktivitas dialog lintas agama. Selain itu, juga banyak kegiatan kami yang melibatkan akademisi Unhi Denpasar dalam mempromosikan kerukunan umat beragama di Bali," ucap Riaz.
       
Kegiatan AYIC 2018 di Bali juga disertai dengan kunjungan ke beberapa tempat ibadah di Bali, seperti Puja Mandala, komplek dimana lima tempat ibadah berdiri berdampingan; Desa Dalung, pemukiman yang pemeluk agama Hindu dan agama lainnya dengan harmonis; serta Pura Besakih, pura terbesar di Bali.
       
Selain itu, peserta juga akan mengunjungi Puri Den Bencingah, Kabupaten Klungkung, yang merupakan tempat asal tokoh agama sekaligus Ketua FKUB Bali dan Ketua Asosiasi FKUB Indonesia Ida Panglingsir Agung Putra Sukahet.
     
"Ini menjadi kesempatan yang baik untuk bertemu langsung dengan tokoh yang terlibat mengelola dialog antarmasyarakat yang berbeda agama," ucapnya.

 

Pewarta: Ni Luh Rhismawati

Editor : Adi Lazuardi


COPYRIGHT © ANTARA News Bali 2018