Seorang dosen tak hanya berkutat di dalam kelas mengajar mahasiswa, melainkan juga membagikan ilmunya kepada siapa pun yang membutuhkannya di luar kampus, seperti anak-anak di pedesaan.
     Begitu prinsip Dr. I Wayan Artika, seorang dosen pada jurusan Bahasa Indonesia yang juga sastrawan dari Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) Singaraja, Buleleng, Bali.
     Selain giat mengajar bahasa dan sastra Indonesia di kampusnya, ia juga merintis Desa Literasi di Desa Batungsel, Kecamatan Pupuan, Tabanan, Bali.
     Di desa kelahirannya itu, ia membangun kegiatan belajar berbagai hal yang berkaitan dengan dunia literasi, seperti membaca, menulis, dan bercerita, bersama anak-anak dan remaja di tengah alam bebas.
     "Desa Literasi adalah kegiatan literasi yang terjadi di tengah-tengah desa atau kampung, terintegrasi dengan program-program sosial yang ada, baik dari pemerintah maupun swadaya masyarakat. Desa literasi melibatkan seluruh lapisan masyarakat di suatu desa, tempat program ini diselenggarakan," kata Artika.  
     Memang diakui, keterlibatan seluruh lapisan masyarakat di desa, termasuk di Desa Batungsel, adalah sebuah hambatan yang besar untuk pengembangan Desa Literasi secara efektif dan menyeluruh, karena jumlah peserta yang terlibat sangat banyak dan mayoritas tidak pernah mengenal literasi.
     Namun, sebagian besar anak-anak menyambut antusias program literasi itu sehingga kegiatan belajar di tengah perkampungan itu tetap menyenangkan.
     Pada umumnya, kegiatan Desa Literasi didasari oleh kesadaran bahwa khazanah pengetahuan desa di Indonesia hanya tersimpan dalam ingatan sosial yang berbasis tradisi lisan. Apalagi, mobilitas informasi juga tidak terbendung masuk ke desa-desa, akibat adanya Revolusi Industri IV, sehingga khazanah pengetahuan lokal yang tersimpan dalam ingatan sosial akan semakin tergusur.
     "Dengan adanya mobilitas informasi seperti itu, maka desa-desa di Indonesia akan mengalami kehilangan khazanah pengetahuan asli yang sangat kaya. Kenyataan ini, misalnya, sudah terjadi di Desa Batungsel, sejak tiga dekade yang lalu," katanya.

Mencatat ingatan sosial
     Desa Literasi didasari oleh adanya kesadaran bahwa Revolusi Industri IV akan menghapus semua ingatan sosial mengenai khazanah pengetahuan lokal, karena itu Artika menerapkan strategi sederhana untuk memulai kegiatan literasi tersebut agar anak-anak menyukainya.
     "Desa Literasi dimulai dari kegiatan ‘menulis’ atau ‘mencatat’ ingatan yang dilakukan oleh anggota masyarakat. Aspek kelokalan, lokalitas atau kedekatan antara masyarakat dan materi-materi literasi merupakan pokok yang sangat penting dalam Desa Literasi, karena kedekatan atau lokalitas mendorong daya tarik untuk membaca lebih bermakna dan fungsional," ujarnya.
     Atas dasar untuk mencatat ingatan sosial di lingkungan dengan itulah Desa Literasi di Desa Batungsel dirintis.
     Rintisan Desa Literasi itu memang dilakukan sejak setahun lalu. Namun sejak tahun 2008, di Desa Batungsel telah dikembangkan perpustakaan publik di tengah desa dengan dana dan pengelolaan swadaya.
     Gerakan perpustakaan publik itu dimotori empat dosen dan keseluruhan dana yang diajukan dibiayai oleh Lembaga Pengabdian Kepada Masyarakat Undiksha, termasuk Artika sendiri.
     Artika adalah seorang penulis novel dan esai-esai pendidikan yang dimuat di berbagai media lokal dan nasional. Novelnya yang kerap menjadi pembicaraan di kalangan penikmat sastra adalah "Incest" dan "Rumah Kepompong" yang mengambil tema yang unik tentang kehidupan masyarakat desa dan masyarakat yang "menyimpang" dari kondisi-kondisi sosial pada umumnya.
     Ia juga sudah menerbitkan sejumlah buku yang berisi kumpulan esai, seperti buku berjudul "Kembali ke Bali" serta judul lain yang berisi pemikiran dia tentang pengembangan pendidikan di lembaga formal maupun nonformal.
     Sejak dirintis sekitar setahun lalu, Desa Literasi di Desa Batungsel ini melakukan kegiatan setiap Sabtu dan Minggu serta hari-hari libur. Selain Artika menjadi motivator dan selalu mendampingi anak-anak dalam melakukan kegiatannya, Desa Literasi juga kerap didatangi sukarelawan dari kalangan mahasiswa Undiksha dan sastrawan-sastrawan di Bali, termasuk bekerja sama dengan Balai Bahasa di Denpasar.
     Kegiatan itu senantiasa memunculkan rasa senang di kalangan anak-anak dan remaja. Karena Desa Literasi ini berangkat dari titik yang lebih awal, yakni menulis khazanah pengetahuan lokal atau pengetahuan desa yang sampai saat ini masih tersisa dalam ingatan sosial.

Literasi gali ingatan
     Kegiatan menulis atau mencatat ingatan adalah kegiatan sosial yang melibatkan sebanyak mungkin anggota masyarakat. Namun demikian, seperti pengalaman pada Desa Literasi Batungsel, pelibatan masyarakat dalam mencatat ingatan sangat sulit terjadi, karena masyarakat tidak pernah mencatat apapun dalam kehidupannya.
     "Untuk itulah, gerakan Desa Literasi ini digiatkan terus. Karena Desa Literasi adalah gerakan sosial yang dimulai dengan menggali dan mencatat ingatan secara berkelanjutan," kata Artika.
     Hasilnya, di Desa Batungsel mulai tercatat banyak hal, berupa dokumen-dokumen tertulis mengenai ingatan sosial yang berisi khazanah pengetahuan, berbagai tipe atau format tulisan, sesuai dengan ekspresi-ekspresi warga desa yang mencatatnya.
     "Desa Literasi harus sebagai pilihan dalam pembangunan desa yang diberi prioritas sama penting dengan fisik atau administrasi kependudukan, kesehatan, atau agraria. Produk awal Desa Literasi adalah catatan-catatan masyarakat tentang ingatan sosial yang berisi khazanah pengetahuan lokal," katanya.
     Dokumen-dokumen ini kelak akan menjadi masa silam dan mata rantai sejarah atau dinamika sosial desa bagi generasi yang akan datang. Orientasi Desa Literasi memang pada mula perintisannya adalah memasuki lapisan-lapisan ingatan sosial masa silam.
     Namun, sejatinya, dokumentasi atau catatan ingatan ini sangat bermanfaat bagi masa depan penduduk di desa bersangkutan.
     "Dokumen-dokumen tersebut akan menjadi rujukan pengetahuan lokal yang memiliki kekayaan nilai, penalaran, ideologi, prinsip, teknologi, ekologi, kosmologi, dan lain sebagainya, sebagaimana konsep memandang dunia masyarakat bahwa dunia mereka adalah desa tempat mereka lahir dan hidup," kata Artika.
     Desa Literasi akan menjadi sumber yang kaya bagi penyusunan buku-buku lokal. Buku-buku yang dihasilkan oleh para penulis amatir di desa tersebut. "Buku-buku dengan biaya desa tersebut dibagikan kepada masyarakat desa untuk dijadikan buku bacaan bersama di keluarga," ujarnya.
     Artika menegaskan, karena ini program pembangunan nonfisik, maka hasilnya tidak bisa tampak segera. Namun, Desa Literasi memiliki nilai strategis karena sejalan dengan pembangunan nasional dalam rangka mewujudkan bangsa literasi, meski belum ada kepala desa yang mengembangkan program pembangunan Desa Literasi. ***4***

Pewarta: Made Adnyana

Editor : Edy M Yakub


COPYRIGHT © ANTARA News Bali 2018