Denpasar (Antara Bali) - Wakil Gubernur Bali Ketut Sudikerta mendorong berbagai pihak dapat bersinergi untuk mencari solusi pemberantasan rabies di Pulau Dewata, di tengah upaya penanganannya yang selama ini dinilai belum memberikan hasil maksimal.

"Rabies hingga saat ini masih menjadi masalah bagi kita semua. Saya berharap para akademisi dapat mencarikan solusi serta langkah konkret penanggulangan rabies berdasarkan pada hasil kajian serta penelitian yang dilakukan," kata Sudikerta saat bertatap muka dengan para akademisi dari Universitas Udayana dan Universitas Minnesota, di Denpasar, Selasa.

Menurut dia, salah satu persoalan mendasar dari penanggulangan rabies adalah masih tingginya populasi anjing liar serta masih sulitnya mengontrol perkembangbiakan anjing liar tersebut. Untuk itu sangat perlu dicarikan solusi terkait upaya mengontrol populasi anjing-anjing liar itu.

Di samping itu, upaya edukasi serta sosialisasi kepada masyarakat yang memelihara hewan khususnya anjing dan kucing perlu terus diintensifkan sehingga masyarakat sadar akan bahaya penularan rabies dan memelihara hewan peliharaannya dengan baik dan tidak diliarkan.

Berbagai strategi pengendalian rabies telah dilakukan oleh Pemprov Bali di antaranya dengan melakukan vaksinasi massal rabies dan penyisiran, eliminasi selektif dan pengawasan lalu lintas Hewan Penular Rabies (HPR) serta mengontrol populasi.

Namun upaya tersebut belum berjalan maksimal, mengingat kasus rabies semenjak terjangkit pertama kali di Bali tahun 2008, hingga saat ini masih terjadi meskipun kecenderungannya sudah menurun.

"Ke depannya diperlukan regulasi yang jelas tentang kepemilikan hewan peliharaan khususnya hewan penular rabies. Dengan berbagai upaya yang ditempuh dan komitmen kita bersama, saya harap Bali bisa segera bebas dari rabies," ujar Sudikerta.

Hal senada disampaikan oleh Direktur Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian drh Fadjar Sumping Tjatur Rasa yang mengatakan rabies adalah penyakit yang dapat ditularkan dari hewan ke manusia (zoonosis) yang utama.

Mengingat besarnya ancaman penyakit tersebut sehingga program pencegahan dan pengendalian serta pemberantasnnya menjadi hal yang penting. Untuk itu pencegahan, pengendalian dan pemberantasan memerlukan kebijakan nasional seperti vaksinasi massal secara berkelanjutan, di samping pengendalian populasi anjing serta strategi informasi dan edukasi kepada masyarakat.

"Keberhasilan program dipengaruhi oleh seluruh masyarakat baik itu perilaku pemilik hewan, penyediaan logistik serta pemahaman masyarakat untuk lebih bertanggung jawab atas hewan mereka," ucapnya.

Fadjar menambahkan adanya komitmen, tujuan yang jelas, pendekatan yang tepat, landasan teknis yang kuat, aksi bersama dan tidak menyerah kalau ada masalah merupakan kunci utama dalam memberantas rabies.

Dalam kesempatan ini, pihaknya juga menyampaikan apresiasinya atas kinerja Pemprov Bali dan jajarannya dalam pemberantasan rabies yang dilakukan dengan berbagai aksi nyata di antaranya dengan kampanye vaksinasi masal serta manajemen terhadap populasi anjing. Dengan kerja sama semua elemen, pihaknya optimistis Bali bisa bebas rabies.

Sementara itu, Koordinator Indonesia One Health University Network (INDOHUN) Prof drh Wiku Adisasmito mengatakan INDOHUN menaungi fakultas kedokteran, kedokteran hewan dan kesehatan masyarakat dari 20 universitas di Indonesia ini memberi perhatian tinggi terhadap upaya untuk menurunkan bahkan memberantas rabies khususnya di Bali, mengingat Bali adalah tujuan pariwisata dunia.

Melalui pertemuan ini diharapkan akan menghasilkan berbagai solusi serta langkah nyata dalam upaya penanganan rabies di Bali pada khususnya dan di Indonesia pada umumnya.

Acara juga diisi dengan diskusi panel dengan menghadirkan para pembicara di antaranya Dr Jeff Bender Direktur One Health Workforce Project Universitas Minnesota, Prof. Dr Lertrak Srikitjakran dari Fakultas Kedokteran Hewan Chiang Mai University Thailand serta kunjungan lapangan ke Desa Pejeng Gianyar terkait program pengendalian rabies. (WDY)

Pewarta: Pewarta: Ni Luh Rhismawati

Editor : I Gusti Bagus Widyantara


COPYRIGHT © ANTARA News Bali 2017