Denpasar (Antara Bali) - Wali Kota Denpasar Ida Bagus Rai Dharmawijaya Mantra menghadiri puncak ritual "karya agung, melaspas, ngenteg linggih, nubung pedagingan, tabuh gentuh dan piodalan" Pura Dalem Desa Pakraman Karangasem.

Bendesa (Ketua) Adat Karangasem, I Wayan Bagiarta di Karangasem, Bali, Selasa mengatakan, pada ritual kali ini sengaja kami mengundang para pimpinan pemerintahan, salah satunya Wali Kota Denpasar Ida Bagus Rai Dharmawijaya Mantra untuk menyaksikan kegiatan ritual tersebut.

"Beliau (Rai Mantra) juga melakukan persembahyangan bersama bersama warga masyarakat setempat untuk memohon keselamatan bagi umat manusia di alam semesta," katanya.

Pada ritual kali ini, kata Bagiarta, upacara ritual keagamaan tersebut diselenggarakan, di antaranya "mepeselang, memutru, mapadanaan dan prajapati".

Dalam kegiatan ini diiringi gamelan gong, gambang, topeng sidakarya, wayang kulit dan tari rejang yang dipimpin rohaniawan Hindu (ida pedanda siwa dan buda). Sedangkan, malam harinya ditampilkan hiburan di panggung Durga Ulangun Pura Dalem, berupa kesenian Calonarang.

"Puncak karya ini menjadi momentum bersejarah yang sangat penting bagi umat, khususnya warga desa, karena baru kali ini sejak seratus tahun lebih dapat menyelenggarakan upacara besar dan utama," ujarnya.

Bagiarta mengatakan, sehari sebelumnya pelaksanaan puncak karya agung ini, juga dilaksanakan berbagai rangkaian upacara, yakni "mapepada daging karya, mendak catur dan mendem pedagingan karya yang diikuti oleh warga 34 banjar se-Desa Pakraman Karangasem.

Rohaniawan Hindu atau Pemangku Dalem Jro Gede Mahendra mengatakan untuk penyucian roh dari binatang yang akan digunakan sebagai sarana "yadnya" atau kurban suci sehingga nanti derajat kehidupannya lebih meningkat dari sebelumnya.

Dalam kegiatan "mepepada" dipimpin Ida Pedanda Gede Manuaba dari Griya Batan Poh, Amlapura. Jenis daging karya meliputi kerbau dua ekor, kambing tiga ekor, angsa dua ekor, anjing bang bungkem satu ekor, penyu satu ekor, dan sembilan ekor ayam berbagai warna.

"Jadi setelah dilakukan keliling areal pura (mepepada) selanjutnya semua jenis binatang dijadikan sarana caru," katanya. (WDY)

Pewarta: Pewarta: I Komang Suparta

Editor : I Gusti Bagus Widyantara


COPYRIGHT © ANTARA News Bali 2017