"Untuk penyelamatan telur penyu itu kami tidak bekerja sendiri, tapi dibantu oleh masyarakat nelayan yang memiliki kesadaran akan satwa dilindungi dan LSM peduli lingkungan," kata Kepala Seksi Konservasi Wilayah I Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bali Sumarsono di Denpasar, Kamis.
Ia mengemukakan bahwa pihaknya bersama dengan masyarakat hampir setiap malam melakukan patroli di sepanjang dua kilometer Pantai Prancak untuk mencari telur-telur penyu tersebut. Hal itu dilakukan agar telur-telur tersebut tidak dimakan oleh predator atau dicuri manusia.
"Biasanya setiap induk penyu itu mengeluarkan telur antara 80 sampai 140 biji. Setelah diamankan dari sarangnya, telur-telur itu kemudian ditetaskan dengan pola semi alami oleh petugas BKSDA bersama penduduk dan LSM," katanya.
Proses penetasan itu biasanya memakan waktu sekitar satu bulan dan begitu menjadi tukik, langsung dilepas ke laut kembali. Diakui bahwa pelepasan tukik ke laut itu sangat rentan karena umumnya tukik-tukik itu tidak cukup kuat melawan serangan predator di laut.
"Tapi itu adalah jalan terbaik karena untuk dipelihara di penangkaran membutuhkan biaya yang sangat besar, bisa ratusan ribu setiap hari. Negara belum bisa menyediakan dana untuk memberi makan tukik-tukik itu," katanya.
Sumarsono yang lama bertugas di Taman Nasional Meru Betiri di Jember ini menuturkan bahwa penyu lekang dan tukiknya tergolong satwa yang makannya tidak sembarangan. Penyu dan tukik jenis lekang hanya mau makan udang dan ikan, sehingga dari sisi biaya cukup tinggi.
"Berbeda dengan penyu hijau yang makannya tergolong sembarang, seperti rumput laut. Biasanya yang biasa dimakan oleh manusia adalah penyu hijau ini, sedangkan penyu lekang, meskipun makanannya bagus-bagus, orang tidak mau makan. Katanya bisa muntah," katanya.
Ia menegaskan bahwa pihaknya akan terus berupaya untuk melestarikan penyu-penyu yang tergolong satwa dilindungi tersebut. Selain di Pantai Prancak, di kawasan Pantai Kuta, Kabupaten Badung, penyelamatan telur penyu lekang dilakukan oleh LSM dan masyarakat setempat.
"Tapi kalau di Kuta jumlahnya lebih sedikit dibandingkan dengan yang di Prancak. Mungkin karena di Kuta sudah ramai dengan manusia. Penyu itu kan sangat sensitif untuk mengeluarkan telurnya. Penyu selalu bertelur pada malam hari dan jika ada suara sedikit, atau lampu, penyu itu tidak jadi bertelur, langsung kembali ke laut," katanya.(*)
: Masuki
COPYRIGHT © ANTARA 2026