"Semakin bergairahnya masyarakat negeri Kangguru itu berlibur ke Pulau Dewata, karena mereka anggap Bali sebagai 'rumah kedua', disamping perekonomian negeri tersebut semakin membaik serta didukung situasi keaman daerah ini semakin mantap," kata Kepala Badan Pusat Statistik Provinsi Bali I Gede Suarsa di Denpasar, Kamis.
Ia mengatakan, mereka sebagian besar datang lewat Bandara Ngurah Rai, dengan menumpang pesawat yang terbang langsung dari negaranya, hanya 11.790 orang yang melalui pelabuhan laut dengan menumpang kapal pesiar.
Australia mampu memberikan kontribusi sebesar 24,90 persen dari total wisman yang berkunjung ke Bali sebanyak 2,57 juta orang selama 2010, meningkat 8,01 persen dibanding tahun sebelumnya yang tercatat 2,35 juta orang.
Gede Suarsa menambahkan, Australia menempati urutan teratas dari sepuluh negara berbanyak memasok wisman ke Bali. Kondisi tersebut diharapkan semakin meningkat pada 2011.
Bali tahun ini menargetkan kunjungan wisman sebanyak 2,6 juta hingga 2,8 juta, disamping wisatawan nusantara yang selama ini jumlahnya dua kali lipat dari turis asing.
Gede Suarsa menjelaskan, dari sepuluh negara yang terbanyak memasok wisman ke Bali, enam negara diantaranya mengalami peningkatan yang cukup signifikan dan empat negara menunjukkan penurunan.
Enam negara yang mengalami peningkatan signifikan selain Australia juga Malaysia meningkat 16,03 persen dari 135.190 orang menjadi 156.858 orang, Taiwan bertambah 1,50 persen dari 120.445 menjadi 122.256 orang, Singapura melonjak 73,96 persen dari 56.992 menjadi 97.402 orang, Inggris 2,91 persen dari 93.688 menjadi 96.412 orang dan Jerman 12,77 persen dari 74.849 menjadi 84.406 orang.
Sedangkan empat negara yang mengalami penurunan yakni Jepang sebesar 26,61 persen dari 333.905 orang pada tahun 2009 menjadi 245.040 orang pada 2010, China 4,48 persen dari 206.151 menjadi 196.925 orang, Korea Selatan 0,13 persen dari 124.889 menjadi 124.729 orang dan Prancis 8,31 persen dari 113.453 menjadi 104.029 orang.(*)
: Nyoman Budhiana
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.