Demikian pula warga keturunan Tionghoa di kota Denpasar dan daerah lainnya di Bali memadati sejumlah vihara dan kelenteng, guna melakukan persembahyangan yang berlangsung secara khusuk dan khidmat.
Mereka mendatangi tempat-tempat suci itu secara silih berganti sejak Rabu malam, setelah sebelumnya memanjatkan doa mohon keselamatan di rumahnya masing-masing.
Penanggungjawab Vihara Dharmayana Kuta, Indra Suarlin mengatakan, pihaknya membuka diri bagi wisatawan yang ingin melakukan persembahyangan berbaur dengan umat setempat.
Persembahyangan dalam beberapa gelombang itu dilakukan sesuai tradisi yang diwarisi secara turun-temurun. Rangkaian kegiatan itu dijadwalkan berlangsung hingga 17 Februari 2011, diakhiri dengan pembersihan diri (buang sial).
Penyalaan lilin, hiasan lampu (lampion), serta persembahan hidangan buah-buahan dan berbagai macam kue menjadi ciri khas perayaan Imlek di Vihara Dharmayana Kuta.
Persembahyangan di vihara yang memiliki koleksi lima barongsai dan dua naga itu umumnya berlangsung seperti hari-hari biasa, namun kali ini agak istimewa, karena disertai dengan pemberian makanan khas kepada mereka yang dinilai berjasa dalam mengembangkan usaha maupun kehidupan pribadi.
Perayaan Imlek, menurut Indra Suarlin, tidak bisa dilepaskan dari lampion yang menghiasi setiap ruangan dan sudut vihara maupun klenteng di Bali.
Demikian pula "penjor tebu" menghiasi setiap gerbang rumah warga keturunan Tionghoa guna menyambut Tahun Baru Imlek 2562.
Nuansa religius itu hampir mirip saat umat Hindu merayakan Hari Raya Galungan, hari kemenangan dharma (kebajikan) melawan adharma (keburukan).
Hal itu mencerminkan terjadinya pembauran dan toleransi kehidupan beragama yang semakin kokoh, hidup harmonis, berdampingan satu sama lainnya tanpa pernah terjadi konflik, tutur Indra Suarlin.
Salah seorang tokoh perwalian umat Budha di Bali itu menjelaskan, kerukunan hidup yang didasarkan atas kesadaran dan saling pengertian menghormati satu sama lain telah diwarisi secara turun-temurun sejak sekitar 500 tahun silam.
Bali kini dihuni oleh penduduk berasal dari 30 etnis di Nusantara, termasuk keturunan Tionghoa serta warga dunia yang berasal dari sejumlah negara.
Keragaman etnis dan "warna kulit" tersebut dikelola dan dijaga dengan baik dengan harapan seluruh warga tetap dapat hidup harmonis berdampingan satu sama lainnya tanpa menimbulkan masalah.
Harmoni keragaman tersebut disinergikan untuk menjadikan Bali aman, damai dan sejahtera (Mandara) yang lebih dikenal masyarakat setempat dengan istilah "Ngardi Bali Shanti Lan Jagadhita".(*)
: Nyoman Budhiana
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.