Denpasar (Antara Bali) - Pengusaha kerajinan Bali masih mengirimkan matadagangan bernilai seni untuk memenuhi permintaan konsumen Jepang, walau perolehan devisanya selama empat bulan periode Januari-April 2016 berkurang hingga 13 persen akibat krisis ekonomi global.

"Kami masih mengirimkan aneka kerajinan ke Jepang, namun jumlahnya tidak sebanyak tahun-tahun sebelumnya," kata seorang pengusha sekaligus eksportir barang kerajinan Bali, Made Sudana di tempat usahanya di Gianyar, Jumat.

Sementara Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali melaporkan, realisasi perdagangan ekspor nonmigas terutama aneka kerajinan ke negeri Sakura walau pun jumlahnya sedikit berkurang dari tahun-tahun sebelumnya, tetapi masih lancar.

Perolehan devisa aneka kerajinan dan nonmigas Bali lainnya ke Jepang bernilai 14,2 juta dolar AS selama Januari-April 2016, atau berkurang 13,79 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu yang mencapai 16,5 juta dolar.

Made Sudiana menambahkan, konsumen Jepang menginginkan barang yang bermanfaat dan bentuknya praktis, dan perajin Bali mampu memenuhi permintaan tersebut, maka hasil ekspornya masih lancar, walaupun jumlahnya agak berkurang.

Perajin tetap mampu memproduksi aneka barang kerajinan dalam bentuk yang praktis dan mudah dibawa serta memiliki banyak manfaat guna memenuhi permintaan pangsa pasar luar negeri khususnya konsumen negeri matahari terbit itu.

Ia menjelaskan, tas kain berwarna warni yang dibuat dengan memanfaatkan limbah dari pengusaha garmen, ternyata menghasilkan mata dagangan cukup menarik dan laku keras di pasaran Jepang, karena dinilai sangat praktis pemanfaatannya.

Usaha kerajinan yang dimilikinya, punya perancang dan memproduksi mata dagangan jenis baru tersebut, ternyata mendapat pasaran yang baik dari kalangan anak-anak muda di Jepang sebagai barang cendramata yang bermanfaat.

Mata dagangan yang dibuat sesuai pesanan yang diterima ikut memperbesar perdagangan hasil usaha industri kecil dan kerajinan Bali sehingga mampu tetap ada saja aneka kerajinan yang dikapalkan ke Jepang hingga awal 2016.

Ia yang memiliki bengkel kerja di kawasan wisata Mas - Ubud tetap bergairah berproduksi karena pesanan dari pebisnis luar negeri terutama dari Jepang, jumlahnya agak lumayan walau ada krisis ekonomi menimpa negeri itu. (WDY)

Pewarta: Pewarta: I Ketut Sutika
: I Gusti Bagus Widyantara

COPYRIGHT © ANTARA 2026