Singaraja (Antara Bali) - Cuaca hujan dan panas yang datang tidak menentu membuat populasi hama tanaman padi di Kabupaten Buleleng semakin meningkat serta diperkirakan akan mempengaruhi hasil panen.

"Banyak tanah padi yang terganggu pertumbuhannya serta mati akibat hama wereng hijau yang membuat penyakit tongro pada tanaman padi akibat cuaca yang labil," ujar Pelaksanan Tugas (Plt) Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten BUleleng Ketut Jiwa kepada ANTARA di Singaraja, Kamis.

Penyakit tungro merupakan penyakit menguningnya daun padi akibat serangga jenis 'Wereng hijau' dan menular serta bisa mempengarahui pertumbuhan tanaman yang pada akhirnya berakibat gagal panen.

Untuk itu, lanjutnya, pihaknya sejak beberapa bulan belakangan ini menganjurkan sejumlah petani agar mengganti pola tanam dalam setahun, untuk menanam palawija sekali setelah dua kali menanam padi.

Menurutnya, hal tersebut bisa menekan populasi serangga "Wereng hijau" yang pada umumnya memakan buah padi milik para petani sehingga tidak banyak merugi akibat perkembang-biakan hama yang meningkat.

"Selain itu, sudah direkomendasikan kepada petani agar menggunanan bibit padi yang tahan dengan serangan hama 'Wereng hijau' supaya tidak mengalami kerugian atau kegagalan panen," paparnya.

Dikatakan, memang sedikit ada pergeseran kualitas padi yang dihasilkan khususnya pada rasa beras dari panen di tahun sebelumnya.

Kata Jiwa, dengan menggunakan bibit padi yang tahan dengan hama "Wereng hijau' tentu bisa membantu para petani agar tidak mengalami musibah gagal panen.

"Karena tantangan di dunia pertanian adalah cuaca dan di tahun ini memang sedikit berbeda dari waktu sebelumnya. Hujan yang turun tidak menentu mengakibatkan para petani kesulitan menekan tingkat populasi hama," ucapnya.(*)




: Masuki

COPYRIGHT © ANTARA 2026