"Seiring perkembangan cuaca, ada kecenderungan produksi juga berkurang sedangkan harga naik sehingga serapan lebih sedikit," kata Kepala Perum Bulog Divisi Regional Bali, I Wayan Budhita di Denpasar, Sabtu.
Menurut dia, harga jual dari petani juga lebih mahal dari harga pedoman pemerintah (HPP) yang ditentukan yakni sebesar Rp7.300 per kilogram.
Sedangkan harga di pasaran saat ini per kilogramnya mencapai Rp8.500-Rp8.800 untuk jenis beras kategori medium dan premium.
Ia menjelaskan bahwa sebagian besar serapan beras dari petani itu didapatkan dari sejumlah kabupaten di Pulau Dewata di antaranya Kabupaten Tabanan dan Jembrana.
Budhita lebih lanjut menjelaskan bahwa selama Juli-Agustus 2015, pihaknya bekerja sama dengan Dinas Pertanian dan TNI, menyerap sebanyak 1.250 ton dari target sebelumnya mencapai 1.000 ton.
Harga yang dipatok lebih mahal dari yang ditentukan oleh HPP, Budhita menjelaskan bahwa hal itu dipicu oleh musim kemarau yang lebih panjang hingga diprediksi akhir tahun ini.
Sehingga kondisi itu memicu berkurangnya produksi beras dari petani di sejumlah kabupaten/kota di Bali.
Sementara itu, Bulog Bali rencananya menggelar distribusi beras untuk keluarga sejahtera (sebelumnya disebut beras untuk masyarakat miskin) pada Oktober dan November 2015 kepada 150.033 rumah tangga sasaran.
Penyaluran itu digelar masing-masing dua kali di antaranya penyaluran rutin dan penyaluran untuk bulan ke-13 dan ke-14. (WDY)
Pewarta: Pewarta: Dewa Wiguna: I Gusti Bagus Widyantara
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.