"Biasanya kebanyakan masyarakat akan berfikir kenaikan BBM pada umumnya akan memicu gejolak sosial, menambah angka kemiskinan, dan mengakibatkan inflasi," kata Cokorda Oka Ratmadi di kantor Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI, Denpasar.
Karena itu, katanya, pihaknya ingin mengedukasi dan menyerap aspirasi masyarakat, khususnya generasi muda di Bali mengenai kontribusi pengurangan subsidi bahan bakar minyak (BBM) pada struktural fundamental Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Menurut dia, anggapan tersebut menjadi bayangan hitam sebelum dan sesudah kebijakan itu diambil oleh pemerintah pusat, akan terjadi perdebatan luas di ruang ruang publik, apalagi, relokasi anggaran subsidi BBM belum mengarah secara signifikan pada sektor-sektor vital di masyarakat.
Dikatakan, sektor vital yang juga mendapat sorotan pada diskusi itu seperti masalah kesehatan, pendidikan, pengentasan kemiskinan, transportasi dan infrastruktur dasar seperti jalan raya, jembatan, pembangkit listrik dan pelabuhan.
"Kita berharap akan mendapatkan saran, pemikiran, atau pun gagasan dari masyarakat, khususnya generasi muda kita di Bali terkait dengan topik yang dibahas, sehingga nantinya akan dapat disalurkan ke pemerintah pusat sebagai bahan pertimbangan dan evaluasi," katanya.
Ia melanjutkan, pihaknya melibatkan mahasiswa dalam mendiskusikan topik tersebut karena menurutnya mahasiswa merupakan kalangan intelektual yang dapat membaca situasi dan memahami keadaan yang berkembang di masyarakat, khususnya di daerah.
"Mahasiswa biasanya lebih agresif dan lebih melek dengan keadaan sekitar, terkait isu dan masalah yang berkembang mengenai kebijakan dari pemerintah," ujarnya.
Selain itu, mantan Ketua DPRD Bali menambahkan, tujuan lain digelarnya diskusi tersebut adalah menyosialisasikan kewenangan serta eksistensi DPD RI sebagai lembaga perwakilan rakyat di daerah.
"Sosialisasi akan terus dilakukan melihat masih banyak kalangan masyarakat yang belum mengetahui kedudukan dan kewenangan dari DPD itu sendiri," imbuhnya. (WDY)
: I Gusti Bagus Widyantara
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.