Denpasar (Antara Bali) - Unit Transfusi Darah Pembina PMI Daerah Bali memprogramkan pada 2011 seluruh desa di Pulau Dewata menjadi desa siaga mandiri donor darah.

"Artinya semua desa di seluruh kabupaten/kota sudah memiliki kelompok donor darah. Harapan kami itu bisa terwujud," kata Kepala Sub Seksi Donor Darah UTD Pembina PMI Daerah Bali Made Geria Arnita di Denpasar, Sabtu.

Dijelaskan, dari sembilan kabupaten/kota, saat ini baru Kota Denpasar dan Kabupaten Badung yang hampir seluruh desanya memiliki kelompok donor darah.

Di dua wilayah tersebut kini sudah memiliki 350 Perhimpunan Donor Darah Indonesia (PDDI), sementara di kabupaten lainnya belum memiliki kelompok donor darah tingkat desa.

"Kami sudah melakukan sosialisasi program itu ke desa-desa di beberapa kabupaten, seperti Karangasem, Buleleng dan terakhir di Jembrana," ujarnya.

Meneurut Made Geria, sosialisasi dilakukan dalam bentuk pemberian pencerahan mengenai pentingnya donor darah ke berbagai lapisan masyarakat dan perangkat desa.

Hal itu dimaksudkan untuk menghilangkan paradigma buruk tentang donor darah yang selama ini melekat di masyarakat.

"Selain itu, kami juga langsung melakukan peragaan tentang cara donor darah guna meyakinkan masyarakat, bahwa donor darah itu aman dan malah menyehatkan," ujarnya.

Upaya sosialisasi itu sekaligus untuk memenuhi kekurangan stok darah yang sering terjadi di kabupaten-kabupaten selain Kota Denpasar dan Badung.

Selain itu, katanya, salah satu manfaat lain yang bisa diperoleh masyarakat setempat dengan dibentuknya kelompok donor darah di desanya adalah dapat menekan angka kematian ibu dan anak saat melahirkan.

"Contohnya, jika ada ibu yang melahirkan mengalami pendarahan hebat, si ibu bisa tertolong apabila tersedia kantong darah untuk mengganti darah yang dikeluarkan si ibu," tambah Made Geria.  

Sampai saat ini yang sudah berhasil diusahakan adalah membangun unit transfusi darah di setiap rumah sakit umum daerah (RSUD) yang ada di kabupaten seluruh wilayah Bali.(*)




: Masuki

COPYRIGHT © ANTARA 2026