Gianyar (Antara Bali) - "Perang" pemberian komisi kepada pemandu wisata yang mendatangkan penonton tari barong di Bali yang mencapai Rp60 ribu, sehingga pengelola bisnis seni itu hanya kebagian Rp20 ribu, dinilai sudah keterlaluan.

"Praktek besar-besaran pemberian komisi kepada pramuwisata itu sudah tidak masuk akal. Bisa merusak pasar penonton tari barong, sekaligus mengancam keberlanjutan usaha seni pertunjukan tersebut," kata Dewa Teges, pengelola "Sahadewa Barong Dance" di Batubulan, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar, Minggu.

Ia menjelaskan bahwa di berbagai sanggar atau penyelenggara tari barong, seperti di sejumlah gedung pertunjukan di Batubulan dan wilayah Gianyar lainnya, umumnya mengenakan tarif menonton tari barong Rp80 ribu per orang.

Seiring persaingan memperebutkan kunjungan penonton dari kalangan wisatawan, katanya, membuat para pengelola seni pertunjukan tari barong itu melakukan praktek besar-besaran memberikan komisi kepada pemandu wisata yang mendatangkan penonton.

Praktek pemberian komisi kepada pemandu itu terus meningkat, dari beberapa puluh ribu hingga kini ada yang mencapai Rp60.000 per penonton. Hal itu terjadi tak terlepas dari sikap pemandu yang memiliki posisi tawar tinggi.

"Namun saat ini hal itu memunculkan kekecewaan di antara pengelola usaha tari barong. Saya sangat kecewa dengan adanya perang komisi itu, karena memberikan refek bagi kunjungan wisatawan ke pertunjukan tari barong lainnya," kata Dewa Teges.

Ia mengatakan, perang komisi itu sudah menyalahi aturan Asosiasi Penyelenggara Tontonan Wisata (Asprananta). "Asosiasi tidak menyarankan terjadinya 'perang komisi'. Itu artinya sudah melanggar ketentuan organisasi," ucapnya.

Perang komisi itu dinilai sudah menggila dan tidak masuk akal, karena pengelola seni pertunjukan yang menanggung biaya operasional cukup besar, terutama untuk membayar seluruh seniman dan tim pendukung, terpaksa rela hanya kebagian Rp20 ribu per orang.

Dewa Teges yang sempat malang melintang sebagai pengurus Persegi Gianyar mengatakan, untuk mengantisipasi agar tidak terjadi keadaan yang lebih buruk, pihaknya telah melayangkan surat ke Aspranata yang berisi protes terhadap praktek perang komisi yang keterlaluan tersebut.

"Assosiasi sempat turun ke salah satu pertunjukan seni barong untuk melakukan pembinaan. Tetapi praktek pemberian komisi yang menggila itu masih saja berlangsung," ucapnya.

Dewa Teges berharap Pemerintah Kabupaten Gianyar turun tangan dan berindak tegas terhadap pengelola pertunjukan seni barong yang memberikan komisi berlebihan kepada pemandu.

Dengan demikian ke depan tidak memunculkan persoalan baru. "Kami berharap pemerintah jeli dalam melihat persoalan - persoalan yang terkait dunia wisata," ujarnya.

Ketika ditanya soal kunjungan wisatawan ke Sahadewa Barong Dance, ia menyebutkan, khusus dari kalangan wisatawan domestik sangat sedikit kendati saat berlangsung libur Lebaran.

Kunjungan yang diandalkan kini dari kalangan wisatawan asal Jepang dan negara-negara Eropa yang setiap harinya hanya berkisar 100-150 orang.

"Jumah kunjungan penonton itu tergolong sedikit jika dibandingkan di lokasi pertunjukan tari barong lainnya. Praktek pemberian komisi besar-besaran mempengaruhi jumlah tamu kami," tambahnya.(*)


: Masuki

COPYRIGHT © ANTARA 2026