Wakil Bupati Buleleng Made Arga Pynatih didampingi Kepala Bappeda Gede Darmaja, kepada wartawan di Singaraja, Kamis mengatakan, keinginan pemerintah kabupaten mewujudkan bandara internasional merupakan harga mati, tidak bisa ditawar-tawar lagi, apalagi sudah mendapat restu pemerintah pusat.
Menurut dia, jika itu bisa diwujudkan, maka akan memiliki dampak ikutan yang luas. Selain akan menampung ribuan tenaga kerja, juga berdampak peningkatan pendapatan asli daerah (PAD), sehingga akan mendorong peningkatan kesejahtraan masyarakat.
Disamping itu, pembangunan mega proyek itu nantinya akan juga sebagai salah satu upaya pemerataan pembangunan antara Bali selatan dengan Bali utara. "Kenapa peluang ini tidak kita ambil, padahal ada kabupaten lain juga berencana membangun bandara, seperti Jembrana, dan Karangasem," ujarnya.
Kalau awalnya rencana pembangunan sarana yang memerlukan pembebasan tanah sampai 700 hektare letaknya di kawasan Buleleng barat, yakni di Kecamatan Grokgak, namun Arga Pynatih maupun Darmaja belum memastikan, apakah di Buleleng barat atau di Buleleng timur, karena memerlukan kajian dari pihak yang membidangi.
Yang jelas, pembangunan bandara itu, akan berlokasi di daerah yang tidak produktif, baik untuk perkebunan maupun pertanian, sehingga lahan yang kritis itu nantinya mampu memberikan kontribusi untuk pemerintah maupun masyarakat, tandas wakil bupati.
Untuk itu, masyarakat diminta dukungannya, karena Buleleng memerlukan investasi, sebab pendapatan asli daerah(PAD) Buleleng sangat kecil.
Jika rencana itu bisa diwujudkan akan mampu menjawab kemiskinan masyarakat Buleleng yang mencapai 37 ribu hingga saat ini.
Terkait dengan wacana pembangunan proyek yang bernilai triliyunan itu, sebelumnya sejumlah pejabat di Pemkab Buleleng termasuk Bupati Putu Bagiada telah bertandang ke Turki untuk melakukan pendekatan dengan investor di sana.
Sementara itu, praktisi pariwisata Ida Bagus Puja Erawan yang mantan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisataan Buleleng sangat mendukung dan menyambut baik rencana pembangunan bandara internasional, karena Bandara Ngurah Rai di Tuban sudah tidak representatif lagi saat ini, apalagi ke depan sudah tidak memungkinkan pengembangannya, kecuali membangun yang baru seperti di Buleleng.
Jika keinginan Pemkab Buleleng itu bisa diwujudkan maka Buleleng akan maju, baik dari segi kesejahteraan masyarakat maupun perputaran ekonomi akan tampak, sehingga akan mampu menyamai Bali Selatan, ujarnya. (*)
Editor : Nyoman Budhiana
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.