Mangupura (Antara Bali) - Dua kader masing masing Ngakan Putu Sukarma dan Wayan Laya bersaing ketat memperebutkan posisi ketua DPC periode lima tahun mendaang dalam musyawarah cabang Partai Hanura Kabupaten Badung, Minggu.

"Ada beberapa agenda muscab mulai pertanggungjawaban pengurus DPC, program kerja hingga pemilihan ketua DPC periode 2010-2015, " kata Sekretaris Panitia Muscab, I Wayan Suardika.

Dari informasi yang berkembang di arena Muscab, sebenarnya sejumlah nama beredar siap untuk bertarung dalam merebut jabatan ketua DPC.

"Kandidatnya banyak cuma ada yang tahu dirilah sehingga mereka memilih mundur," kata seorang peserta peninjau dari Denpasar.

Namun dari sekian kader yang ingin menduduki kursi yang akan ditinggalkan Ketua DPC demisioner I Wayan Reta, mulai mengerucut pada dua nama yakni Sukarma dan Laya. "Benar nama keduanya yang menguat di arena muscab," kata Suardika.

Calon kandidat Sukarma saat ini menjabat sekretaris DPC sedangkan Laya sekarang menjabat sebagai wakil ketua DPD Bali. Sementara Reta memilih enggan bersaing lagi karena akan berkiprah masuk di struktur DPD.

Muscab DPC Badung tersebut merupakan kegiatan maraton yang digelar Partai Hanura Bali setelah kabupaten lainnya lebih dulu menyelesaikan agenda muscab yakni Gianyar, Denpasar, Buleleng, Karangasem, Klungkung dan Tabanan.

Sementara untuk Muscab di kabupaten Jembrana bakal digelar 4 Agustus mendatang. Acara Muscab  I yang digelar di Hotel Made, Sempidi, Mangupura dibuka Ketua DPD Parti Hanura Bali, I Gede Ngurah Wididana dihadiri utusan pengurus PAC, DPC dan DPD.

Kepada para kandidat yang akan maju bersaing memperebutkan posisi ketua DPC, Ketua DPD Wididana, mengharapkan agar semua kader tetap bisa menjaga soliditas partai dan mengedepankan hati nurani.

"Pengurus baru nantinya agar bisa menjalankan amanat muscab dan tetap menjaga kepemimpinan organisasi yang solid," tandas Wididana. 

Ia meminta pengurus untuk tidak membiarkan struktur yang kosong serta menghindari perselisihan yang tidak perlu pada organisasi karena akan membuang energi.

"Partai ini membutuhkan kepemimpinan yang kuat, tidak hanya mampu berpikir namun pemimpin partai harus mau mendengar penderitaan rakyat. Pemimpin partai nantinya harus membuktikan diri sesuai visi organisasi, jangan hanya pintar berbicara saja atau dalam istilah Bali "raos raos duen " kata Wididana mengingatkan. (*)




: Masuki

COPYRIGHT © ANTARA 2026