Denpasar (Antara Bali) - Pakaian eks impor kembali marak diperjualbelikan para pedagang pengecer bahkan kelompok pedagang yang secara khsusus menjual pakaian bekas itu di Pulau Dewata.
"Masyarakat banyak yang membeli pakaian impor bekas, terutama yang kualitasnya masih bagus dengan harga terjangkau," kata Made Bakta, pedagang yang sebagian besar barangnya berupa pakaian eks impor, di Denpasar, Jumat.
Pakaian eks impor yang sebelumnya hanya diperdagangkan di toko-toko pengecer di Denpasar dan Tabanan, kini mulai banyak tersebar hingga ke daerah kecamatan di Bali.
Pakaian tersebut umumnya didatangkan dari Korea Selatan, Jepang, Hongkong dan China.
Kualitas pakaian eks impor umumnya masih dalam kondisi baik, bahkan ada yang masih baru, tergantung konsumen bisa memilihnya. "Perbedaannya sangat tipis, baik dalam bentuk warna maupun harganya," kata Bakta sambil melayani pembelianya.
Ia yang sudah belasan tahun menjual baju eks impor tetap meminta konsumen untuk berhati-hati dalam membeli pakaian impor. Sulit untuk membedakan mana pakaian impor baru atau yang bekas, karena tingkat kecacatan atau kerusakannya relatif kecil.
Nyoman Sukerti, pedagang pakaian impor lainnya juga meminta masyarakat tetap berhati-hati membeli pakaian impor seperti baju Korea, karena tidak tertutup kemungkinan barang tersebut merupakan pakaian bekas tetapi kelihatannya baru.
Perdagangan pakaian impor bekas kini mulai marak lagi, kendati impor pakaian bekas masih dilarang pemerintah, ujar wanita tersebut yang mengaku mendapatkan barang impor dari importir resmi.
Kehati-hatian itu penting, sebab khawatir konsumen yang tidak teliti akan tertipu bila pakaian impor baru dan bekas dijajakan bersamaan oleh para pedagang, termasuk pakaian buatan perajin lokal.
Hal itu penting karena harga grosir pakaian impor yang baru pun sangat bersaing dan hanya lebih mahal sedikit dibandingkan pakaian buatan lokal, kendati kain atau bahan bakunya lebih bagus, kata dia.
Pakaian impor yang beredar di Bali kebanyakan berasal dari China, Hongkong, dan Korea Selatan. "Kalau harga pakaian impor seperti baju Korea misalnya, cuma beda Rp10.000 per potong," kata Sukerti pedagang di pinggiran Kota Denpasar.
Harga pakaian yang murah itu, baik bahan baku, potongan, dan jahitannya lebih bagus. "Oleh sebab itulah konsumen kebanyakan membeli produk impor, meskipun mungkin itu pakaian impor bekas yang masih bagus," ujarnya.
Maraknya kembali impor tekstil dan produk tekstil (TPT) ke Bali di awal 2010 cukup menggairahkan pertumbuhan ekonomi rakyat Bali yang masih bersandarkan pada sektor pariwisata, seni kerajinan dan pertanian.
Pimpinan Bank Indonesia Denpasar Jeffrey Kairupan, dalam laporan kajian ekonomi regional Bali menjelaskan, impor TPT tiga bulan I-2010 tercatat 896 ribu dolar AS dan tahun sebelumnya hanya 3,8 juta dolar .(*)
: Masuki
COPYRIGHT © ANTARA 2026