Bangli (Antara Bali) - Menemukan kebahagiaan menjadi hakekat keinginan setiap umat manusia, dengan harapan bisa melepaskan beban yang membelenggu pikiraan, dengan mengembangkan jiwa yang bebas "free spirit".

"Saya ingin menyebarkan virus freespirit dan freethinker kepada siapa saja yang ingin menemukan kebahagiaan dalam hidupnya," kata Maria Dominique, penulis buku "Tanpa Tutup-Boleh Nakal Tapi Nggak Boleh Bejat" di Toya Devasya Hotel and Spa, Toya Bungkah,Kabupaten  Bangli, Jumat malam.

Di hadapan para wartawan, pejabat, artis dan berbagai kalangan yang hadir dalam peluncuran buku di bibir Danau Batur, Kintamani, Maria menyatakan sejatinya ada empat hal yang selama ini dicari dan membelenggu pikiran manusia.

Kempat hal yang mewarnai kehidupan manusia, meliputi hasrat akan harta, kedudukan, seks dan popularitas.

"Banyak yang mengira setelah semua hasrat itu tercapai lantas sudah bahagia, padahal tidak," kata alumnus SD Tarakanita II Jakarta itu.

Dalam bukunya setebal 265 halaman itu, Maria mengingatkan bahwa selama manusia terkungkung oleh keempat hasrat tersebut, maka selama itu pula yang bersangkutan tidak akan menggapai kebahagiaan.

Hasrat, menurutnya, jika sudah tercapai bukannya selesai namun justru melahirkan hasrat yang baru sehingga tidak akan pernah berhenti.

Sementara kebahagiaan adalah hal terakhir yang akan dicapai, dia tidak akan menginginkan apa apa lagi. Untuk itu Maria ingin mengajak siapa saja kembali menegaskan tujuan hidup yakni kebahagiaan dunia akherat dan itu hanya bisa dicapai dengan jalan membebaskan diri dari semua belenggu pikiran yang diperbudak oleh keempat hasrat tersebut.

Manusia yang bebas, menurutnya, mereka yang bisa menentukan pilihan keputusan hidupnya tanpa ada tekanan atau ketakutan terhadap apapun baik dari dalam diri maupun di luar dirinya sendiri.

"Bebas menentukan arah hidup dan siap menerima risiko terhadap keputusan yang diambilnya," ujarnya.

Saat rilis kedua terhadap buku wanita yang menekuni profesi jurnalis selama 18 tahun itu, sejumlah tokoh ikut memberi tanggapan antara lain  Ahmad Charis Zubair (Dosen Filasafat UGM), I Made Sugianyar (Wakil Bupati Bangli), Lukman Sardi (Aktor) dan Managing Director Toya Devasya Hotel and Spa.

Lumkan Sardi misalnya, ia mengaku telah menjalani "free spirit" dalam kehidupannya sehari hari di dunia akting. "Saya mengerjakan sesuatu berdasarkan yang saya yakini benar dan akan mendapat kebahagiaan, saya tentunya sudah siap dengan risiko yang akan dihadapi," kata Lukman.

Dalam kesempatan itu, Maria juga mengaku akan terus mengkampanyekan semangat jiwa yang bebas dan berfikir bebas dari segala macam ketakutan itu, sekaligus mengembalikan bangsa Indonesia kepada karakter aslinya yakni manusia yang berjiwa bebas.

"Manusia berjiwa bebas ini adalah mereka yang bisa menghargai keragaman, berjiwa luhur, mengajarkan kejujuran, humanis dan lain sebagainya," kata dia. Untuk itu, manusia mesti mengenal diri dan percaya dengan kekuatan dan anugerah yang diberikan sang pencipta.   

"Bekerja adalah berdoa artinya segala yang kita lakukan bukan untuk popularitas, uang, materi dan sebagainya," ucap ibu satu anak ini. (*)


: Masuki

COPYRIGHT © ANTARA 2026