Denpasar (Antara Bali) - Pengamat politik dari Sekolah Tinggi Ilmu Sosial dan Politik (STISPOL) Wira Bhakti Denpasar, Gusti Bagus Made Wiradharma, M.Si mengatakan, calon legislatif perempuan bertarung dalam pemilu cukup ketat.

"Pertarungan caleg perempuan semakin ketat, karena selain menghadapi kaum perempuan sendiri, juga dengan caleg laki-laki. Karena itu caleg perempuan harus memiliki strategi yang efektif untuk mendapatkan suara rakyat," katanya di Denpasar, Kamis.

Ia mengatakan, caleg perempuan harus memantapkan strategi pada saat kampanye. Strategi itu bisa dilakukan dengan pendekatan langsung kepada massa pendukung.

"Jika pemilih perempuan peduli dengan kaumnya pasti akan memilih caleg perempuan. Ini sebagai unjuk kemampuan sejauh mana pada saat kampanye mampu menyampaikan misi dan visinya kepada massa pendukungnya," ucap mantan Ketua DPD KNPI Bali itu.

Menurut dia, dengan aturan KPU mewajibkan 30 persen dari caleg perempuan masing-masing partai politik untuk menjadi kontestan pada pemilu. Maka tantangan dari caleg perempuan untuk menarik simpati perempuan itu sendiri.

"Tetapi perlu juga menjadi catatan caleg perempuan, karena tingkat kepedulian pemilih, khususnya perempuan belum maksimal," ucapnya.

Oleh karena itu, Wiradharma menyarankan pada saat kampanye harus mampu meyakinkan pemilih, khususnya pemilih perempuan.

Sementara itu, Ketua LSM Bali Sruti, Dr. Luh Riniti Rahayu mengatakan, caleg perempuan juga harus berhadapan dengan potensi kecurangan pada saat pencoblosan dan penghitungan suara.

Menurut dia, kecurangan itu menjadi salah satu persoalan serius dalam pelaksanaan pemilu. Untuk mencegah caleg perempuan "terlempar" dari bursa kursi anggota legislatif, mereka juga perlu dibekali strategi untuk menghadapi kemungkinan terjadinya kecurangan yang merugikan caleg perempuan.

"Karena itu perlu pembekalan strategi itu sebagai bagian dari upaya untuk meningkatkan keterwakilan perempuan Bali pada Pemilu Legislatif 9 April mendatang," katanya. (WDY)

Pewarta: Oleh I Komang Suparta
: I Gusti Bagus Widyantara

COPYRIGHT © ANTARA 2026