"Pekerjaan rumah sangat besar bagi Pemprov Bali di bidang pertanian adalah masuk ke revitalisasi ini. Kalau tidak, maka akan berbahaya dalam jangka menengah," kata Jeffrey saat berdiskusi dengan para pimpinan media di Denpasar, Kamis.
Ia mengemukakan, jika kita masuk ke pasar-pasar tradisional di Denpasar atau Kabupaten Badung, maka akan ketahuan bahwa komoditas hasil pertanian yang dijual di pasar itu, antara 60 hingga 70 persen berasal dari luar Pulau Bali.
"Kalau terjadi bencana berlebihan, misalnya sampai tiga hari pelabuhan Gilimanuk dan Padangbai tidak bisa digunakan, maka harga- harga di pasar dipastikan akan naik. Ini karena ketergantungan Bali pada pasokan dari arah timur dan barat itu," katanya.
Tidak hanya harga pokok yang dikhawatirkan naik sehingga menimbulkan peningkatan inflasi, namun juga dampak turunannya dari hal tersebut. Ketika satu komoditi dinaikkan, maka komoditi yang lain akan ikut naik.
"Kemudian pemilik rumah makan akan memborong beras sehingga stok berkurang, maka permintaan akan semakin tinggi dan harganya naik," katanya.
Di sisi lain, kata Jeffrey, sebetulnya kondisi kertergantungan Bali pada hasil pertanian daerah lain itu juga baik karena Pulau Dewata ini menjadi katalisator bagi perkembangan ekonomi dai daerah sekitarnya.
"Hal ini tidak menjadi masalah jika arus barang yang masuk ke Bali ini tidak hanya tergantung lewat laut dan darat saja, tapi juga bisa lewat udara. Cuma untuk sekarang ini kan belum mungkin lewat udara," ujarnya.
Mengenai kondisi pertanian yang kini banyak ditinggalkan oleh generasi muda di Bali, ia mengemukakan, hal itu sebetulnya tidak menjadi masalah jika didukung oleh fasilitas lainnya. Hal itu juga dialami oleh Singapura yang tidak memiliki lahan pertanian, namun pasokan bahan komoditi selalu tercukupi.
"Sebetulnya, ekonomi di Bali kan ada dua, yakni pariwisata dan pertanian. Bisa saja Bali nanti-nanti betul-betul konsentrasi di pariwisata dan meninggalkan pertanian," katanya.
Mengenai peran perbankan untuk ikut menggerakkan perkembangan pertanian itu, ia mengakui bahwa dunia perbankan masih melihat sebelah mata pada pertanian.
"Memang bank sulit, misalnya mau memberi kredit kepada petani yang jumlahnya banyak. Ini beda dengan usaha lainnya yang orangnya jelas, usahanya jelas. Mungkin yang lebih konkret adalah adanya bank pertanian, meskipun penanganannya tidak sederhana," katanya.(*)
: Masuki
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.