Denpasar (Antara Bali) - Pengamat seni budaya Bali, Kadek Suartaya, S,S.Kar, M.Si menilai, konsep estetis sendratari yang berkembang di Indonesia didominasi tata penggarapan tari sehingga mampu menarik perhatian penonton di dalam maupun luar negeri.

"Konsep artistik tari sendratari Bali dikonstruksi dan dikembangkan dari seni pertunjukan tradisi seperti pewayangan, pegambuhan, palegongan dan kakebyaran," kata Kadek Suartaya yang juga dosen Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar, Rabu.

Kandidat doktor Kajian Budaya Universitas Udayana itu menambahkan, sementara sendratari Jawa dikonstruksi dan dikembangkan dari tari klasik Jawa (gaya Surakarta-Yogyakarta).

Dengan demikian karakter gerak dalam konsep artistik sendratari Bali bersumber dari gerak-gerak tari Bali, terutama dalam dramatari yang dibedakan menjadi empat jenis kategori.

Suartaya menjelaskan, keempat jenis itu meliputi gerak berpindah tempat, gerak maknawi, gerak murni, dan gerak penguat ekspresi.

Gerak maknawi merupakan gerak tari yang distilisasi dari gerak keseharian, yang melambangkan makna tertentu. Gerak murni adalah gerak yang hanya menitikberatkan pada keindahan semata.

Aspek-aspek teatrikal dalam konsep artistik sendratari banyak menggunakan gerak penguat ekspresi (baton signal), termasuk sendratari Bali yang dirintis I Wayan Beratha seperti tampak pada Sendratari Jayaprana (1962) dan Sendratari Ramayana (1965). (M038)


Pewarta: Oleh IK Sutika
: M. Irfan Ilmie

COPYRIGHT © ANTARA 2026