Denpasar (Antara Bali) - Dekan Fakultas Pertanian Universitas Dwijendera Denpasar Gede Sedana menilai pembangunan pertanian dan perdesaan di Indonesia kurang mendapat perhatian secara serius karena sektor itu masih mencerminkan kemarginalan konsep kelembagaan lokal.

"Kelemahan itu salah satunya akibat tidak memanfaatkan organisasi yang ada di tengah masyarakat pertanian secara maksimal," kata Dr.Ir. Gede Sedana, M.Sc., M.M.A. di Denpasar, Selasa.

Pria kelahiran Singaraja 1 Desember 1964 atau 49 tahun silam yang baru saja meraih gelar doktor pada Program Studi Ilmu Pertanian, Program Pascasarjana Universitas Udayana itu mengatakan bahwa segala bentuk ketradisionalan, meliputi sosial, adat, dan budaya, harus mampu diberdayakan.

Semua itu untuk mencapai tujuan pembangunan pertanian dan perdesaan, dan khusus kasus di Bali pembangunan pertanian selama ini kurang memanfaatkan keunggulan yang berbasis pada kelembagaan lokal.

"Kelembagaan petani cenderung hanya diposisikan sebagai alat untuk mengimplementasikan proyek belaka, belum sebagai upaya untuk pemberdayaan yang lebih mendasar," ujarnya.

Ia mencontohkan ketidakberdayaan dalam memfungsikan kelembagaan lokal, misalnya kelompok tani dan perkumpulan petani pemakai air (P3A), termasuk subak akan mengakibatkan ketidakberhasilan pengembangan agrobisnis di perdesaan.

Dengan demikian, introduksi kelembagaan dari luar yang kurang memperhatikan struktur dan jaringan kelembagaan lokal yang ada dapat dilakukan melalui pendekatan dari atas ke bawah menyebabkan partisipasi masyarakat tidak tumbuh. (WRA) 

Pewarta: Oleh I Ketut Sutika
Editor : I Gede Wira Suryantala

COPYRIGHT © ANTARA 2026