"Kita masih punya waktu untuk meminimalkan problem sukses untuk memaksimalkan kesuksesan. Lewat pertemuan dengan berbagai pihak seperti ini, kita akan mencari solusi itu," katanya saat membuka diskusi evaluasi perekonomian Bali triwulan I 2010 di Denpasar, Selasa.
Ia mengemukakan Provinsi Bali telah sukses dalam berbagai hal, khususnya di sektor pariwisata yang juga telah menggerakkan sektor-sektor ekonomi lainnya, namun pada saat bersamaan justru Bali menghadapi problem sukses.
"Bali masih memiliki ketergantungan tinggi untuk memenuhi berbagai kebutuhan dari luar pulau. Coba perhatikan, satu hari saja kapal feri tidak bisa berlayar dari Ketapang ke Gilimanuk, maka harga-harga di pasar Badung sudah naik. Bagaimana kalau gangguan penyeberangan itu terjadi berhari-hari," katanya.
Menurut dia, ketika daerah lain di Indonesia berupaya mengejar kesuksesan, Bali memang menghadapi masalah sendiri dengan kesuksesan yang telah diraihnya.
Sementara anggota Tim Makro Ekonomi Bali, Didik, yang juga menjadi pembicara dalam diskusi itu mengemukakan bahwa laju pertumbuhan ekonomi (LPE) Bali pada 2009 mencapai 5,33 persen atau melambat dibandingkan dengan 2008 yang mencapai 5,97 persen.
"Capaian LPE Bali pada 2009 di bawah target pemerintah yang diperkirakan mencapai 5,74 persen. Target itu tidak tercapai karena beberapa asumsi makro ekonomi tidak tercapai," kata lelaki yang juga pegawai BPS Bali itu.
Ia mengemukakan beberapa asumsi makro adalah pengeluaran wisatawan mancanegara yang ditargetkan Rp1,5 juta per hari, ternyata hanya tercapai Rp1,3 juta per hari. Lama tinggal wisatawan asing yang ditargetkan 14,3 hari, ternyata hanya terwujud 8,75 hari.
"Ini memang menunjukkan adanya perubahan pola kunjungan wisatawan asing. Kalau dulu mereka cukup lama berada di Bali, sekarang berkurang," katanya.(*)
: Masuki
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.