"Jika dalam tes itu ada yang mengisi soal tidak sesuai kenyataan atau mencoba untuk bohong, itu bisa ketahuan bahkan ada skor atau skala bohongnya," ungkap Dokter Jiwa, Thomarius, Selasa.
Biasanya peserta tes berbohong, karena ingin kelihatan baik atau pura-pura baik dengan harapan bisa lulus dalam ujian kesehatan rohani yang dilakukan dokter.
Dengan sikap pura-pura tersebut, peserta tes biasanya justru terjebak dalam sebuah pertanyaan sama yang diulang-ulang namun dalam bentuk yang berbeda, sehingga menghasilkan jawaban yang berbeda.
"Jawaban yang tidak konsisten akan menunjukkan pribadi yang bersangkutan dan bisa mempengaruhi hasil tes," imbuhnya. (*/ADT)
Pewarta: Oleh : Debby Hariyanti Mano: I Nyoman Aditya T I
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.