Gorontalo (Antara Bali) - Jangan pernah mencoba untuk berbohong saat sedang menjalani tes kesehatan rohani yang dilakukan dokter, hanya dengan menjawab 350 soal sesuai dengan kondisi, pengalaman, maupun apa yang dirasakan pasien.

"Jika dalam tes itu ada yang mengisi soal tidak sesuai kenyataan atau mencoba untuk bohong, itu bisa ketahuan bahkan ada skor atau skala bohongnya," ungkap Dokter Jiwa, Thomarius, Selasa.

Biasanya peserta tes berbohong, karena ingin kelihatan baik atau pura-pura baik dengan harapan bisa lulus dalam ujian kesehatan rohani yang dilakukan dokter.

Dengan sikap pura-pura tersebut, peserta tes biasanya justru terjebak dalam sebuah pertanyaan sama yang diulang-ulang namun dalam bentuk yang berbeda, sehingga menghasilkan jawaban yang berbeda.

"Jawaban yang tidak konsisten akan menunjukkan pribadi yang bersangkutan dan bisa mempengaruhi hasil tes," imbuhnya. (*/ADT)


Pewarta: Oleh : Debby Hariyanti Mano
: I Nyoman Aditya T I

COPYRIGHT © ANTARA 2026