Denpasar (Antara Bali) - PT Jaminan Kredit Daerah (Jamkrida) Bali Mandara telah membukukan laba yang mendekati Rp2 miliar selama tahun 2012 atau meningkat 100 persen jika dibandingkan tahun 2011.
     
"Tahun 2011 kami membukukan laba sebesar Rp1 miliar, sedangkan tahun 2012 jumlahnya naik yang mencapai hampir Rp2 miliar," kata Direktur PT Jamkrida Bali Mandara, I Ketut Satya Indra Darma Putra di Denpasar, Kamis.
     
Namun dari angka tersebut, laba yang diakui sebesar Rp162 juta karena pihaknya harus tunduk dengan peraturan terbaru dari menteri keuangan menyangkut standarisasi akuntasi keuangan melalui Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam LK) yang kini kewenangannya telah beralih menjadi Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
     
Menurut dia, pengakuan mekanisme akuntansi keuangan harus ikuti mekanisme "acural basis" dimana pendapatan yang diterima pada bulan tertentu harus mengakui pendapatan sesuai dengan periode jaminan kredit yang diberikan.

"Misalnya satu pengusaha mendapatkan kredit sebesar Rp100 juta dengan umur kredit 15 tahun, kami hanya mendapatkan imbal jasa tidak lebih dari 2,8 persen selama 15 tahun. Jadi kalau Rp100 juta kami mendapat sekitar Rp2,8 juta, itu kami harus mengakui pendapatan tersebut selama 15 tahun ke depan," ujarnnya.

Meski demikian, Darma Putra menegaskan bahwa lembaga jaminan kredit daerah harus bertahan dan berkelanjutan karena sebagian besar lembaga penjaminan di Asia merugi.

Sejak beroperasi resmi pada Juni 2011, Jamkrida Bali Mandara telah memberikan jaminan kredit sebesar Rp38,3 miliar.

Jumlah itu terdiri dari sektor produktif di antaranya usaha dagang, pertanian, dan jasa sebesar Rp17,7 miliar dan non-produktif di antaranya jaminan kredit multiguna sebesar Rp20,5 miliar.

Darma Putra menjelaskan untuk tahun 2012 jumlah jaminan kredit yang terealisasi sebesar Rp564 miliar dengan komposisi sektor produksi (45,2 persen) dan non-produksi (54,7 persen).

"Sedangkan untuk tahun 2013 hingga Maret ini jaminan yang telah diberikan sebesar Rp50,3 miliar dengan komposisi yang seimbang antara sektor produktif dan non-produktif," ujarnya. (DWA)


Pewarta: Oleh Dewa Wiguna
Editor : Dewa Sudiarta Wiguna

COPYRIGHT © ANTARA 2026