Made Wianta (64), seniman kondang Bali yang punya nama di tingkat internasional itu, mengawali apresiasinya di atas kanvas untuk memenuhi panggilan hati nurani.
Masa kecilnya lebih tertarik pada seni kerawitan yang dibuktikan dengan melanjutkan pendidikan ke Kokar Denpasar, yang kemudian berubah status menjadi Sekolah Menengah Karawitan Indonesia (SMKI) Denpasar dan menjadi Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Batubulan, Kabupaten Gianyar.
Pria kelahiran Desa Apuan, Tabanan, 20 Desember 1949 itu dalam waktu bersamaan juga belajar melukis di SESRI atau Sekolah Menengah Seni Rupa (SMSR) Denpasar, kemudian melanjutkan pendidikan ke Akademi Seni Rupa (ASRI) Yogyakarta yang kini juga berubah status menjadi Institut Seni Indonesia (ISI).
Benih-benih seni yang dimiliki sejak lahir yang dipadukan dengan pendidikan formal, berhasil membentuk watak pria yang berpenampilan sederhana itu menjadi seorang pelukis kontemporer.
Hal itu tidak terlalu berat baginya karena sejak kecil hidup dalam lingkungan seni, ayahnya seorang seniman tari dan dua saudara kandungnya sebagai seniman dalang.
Setelah menyelesaikan pendidikan di ASRI Yogyakarta pada tahun 1974 dan beberapa tahun kemudian membentuk rumah tangga dengan Nyonya Ir. Intan Kirana, salah seorang cucu pendiri Taman Siswa Ki Hadjar Dewantara.
Ia kembali ke kampung halamannya di sebuah desa di lereng kaki Gunung Batukaru di Kabupaten Tabanan, Bali, dan memulai aktivitasnya dalam bidang seni lukis.
Tinggal di desa yang hingga kini kondisinya masih asri di tengah hamparan sawah yang subur, berapresiasi di atas kanvas sesuai dengan hati nuraninya, di samping memiliki studio sekaligus rumah tempat tinggal di Kota Denpasar.
Putra bungsu dari sepuluh bersaudara pasangan suami-istri Gede Labdana-Ni Medik itu, ternyata mampu menghasilkan karya-karya seni bermutu dan ditampilkan dalam pameran di tingkat lokal Bali, nasional, dan internasional.
Ia tercatat sukses menggelar pameran di sejumlah negara, seperti Jepang, Amerika Serikat, Swis, Belanda, Australia, dan China, serta sejumlah negara di belahan dunia lainnya.
Made Wianta bersama istrinya Ny. Intan Kirana dan Dekan Teater Universitas Wesleyan, Amerika Serikat, Prof.Dr. Ron Jenkins Buratwangi sekaligus fotografer dan periset melakukan tapak tilas perdagangan rempah-rempah ke Pulau Run, Kepulauan Banda, Maluku.
Perjalanan yang akan berlangsung beberapa minggu ke depan itu sebagai persiapan menggarap proyek seni Run for Manhattan, yang akan menghasilkan karya seni rupa, musik, fotografi, film dokumenter, teater, tari, dan buku.
Persiapan Matang
Made Wianta sebelum keberangkatannya telah melakukan persiapan secara matang, termasuk mengadakan diskusi dengan kurator Museum der Kulturen Basel Swis Dr. Urs Ramseyer.
Perjalanan tapak tilas sekaligus membuat dokumentasi pulau yang dalam sejarah pernah menjadi pusat perekonomian dunia. Hasil risetnya itu akan dikembangkan menjadi berbagai karya seni yang penggarayang melibatkan sejumlah seniman ternama maupun seniman muda dengan harapan terjadi alih keterampilan dengan baik.
Pulau Run (Roon) di Maluku adalah sebuah pulau kecil yang pada abad XVI pernah menjadi pusat perdagangan dunia dengan hasil bumi rempah-rempah yang sangat terkenal.
Pulau kecil itu adalah sumber pala (Myristica fragrans) terbesar dengan kualitas terbaik di dunia sehingga menjadi incaran bangsa Portugis, Belanda, dan Inggris yang dalam kurun waktu berbeda menguasai Pulau Run di Maluku.
Saking mahalnya jenis rempah yang satu ini, harga per kilogram konon bisa untuk membangun sebuah rumah mewah di Eropa.
Pada tahun 1667, terjadilah perjanjian Breda menyepakati Pulau Run yang dikuasai Inggris ditukar dengan Pulau New Amsterdam yang masih dalam jajahan Belanda. Kelak, New Amsterdam berubah nama menjadi Manhattan dengan kota megapolitan New York yang menjadi salah satu pusat perekonomian dunia.
Menurut Wianta inspirasi proyek seni yang digarapnya itu muncul dari perbincangan bersama Romo Mudji Sutrisno, budayawan Taufik Rahzen, dan wartawan senior Tempo Seno Joko Suyono di sela muhibah budaya pra-Olimpiade Athena 2004.
"Sejarah Run perlu diangkat sebagai kebanggaan dan semoga menjadi inspirasi bagi generasi yang akan datang," harap Wianta sebelum meninggalkan Bali menuju Maluku.
Penggarapan proyek seni akbar tersebut akan melibatkan sejumlah seniman tari, teater, musisi, dan para ahli seni pertunjukan dari dalam dan luar negeri.
Teater dan produk seni lain dalam proyek kali ini akan dipergelarkan di Indonesia, Belanda, Inggris, Spanyol, Portugis, dan puncaknya di Amerika Serikat bertepatan peringatan 350 tahun perjanjian Breda, "barter" Run dan Manhattan pada tahun 2017.
Wianta menginginkan pertunjukan yang akan ditampilkan, seperti yang pernah disaksikannya di Cirque du Soleil di Las Vegas, War Horse di Broadway atau Blue Man di Berlin.
Hal itu dilandasi atas keyakinan terhadap kekayaan budaya Indonesia akan menjadi khazanah memikat dalam pertunjukan bertaraf internasional. Untuk itu, telah menyiapkan sejumlah desain panggung dan telah menghubungi sejumlah seniman yang akan dilibatkan.
Persiapan lain telah jauh hari dilakukan, di antaranya riset kepustakaan, survei lapang yang telah dilakukan saat menggelar pameran di Mike Weiss Gallery, Manhattan dan mempelajari kapal VOC yang disimpan di Museum Belanda, tutur Made Wianta. (IGT)
: Masuki
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.