Namun keuntungan dari kenaikan harga bawang di pasaran tidak serta merta mampu mengangkat perekonomian para petani, karena penghasil bawang merah dan bawang putih tidak merata di seluruh pertanian di Tanah Air.
Kenyataan ini setidaknya pemerintah harus mengevaluasi kembali untuk mengintensifkan dan mendorong para petani supaya kembali menanam tanaman yang selama ini menjadi kebutuhan sehari-hari di masyarakat.
Meski tidak dipungkiri, bahwa kebutuhan bawang di Indonesia selama ini masih menjadi catatan penting dalam memajukan produksi pertanian. Sebab bawang yang ada di pasaran selama ini sebagian besar impor.
Begitu eksportir bawang melakukan ulah "pengeriman mendadak" untuk pendistribusian kepada masyarakat, maka harga bawang seketika melambung tinggi.
Warga pun dibuat resah karena sebelumnya harga bawang tidak disangka akan mencapai kenaikan drastis berkisar Rp80.000 hingga Rp90.000 per kilogram.
Anggota Komisi II DPRD Bali Wayan Pinta Yadnya mengatakan kenaikan harga bawang di pasaran setidaknya menjadikan pengalaman penting bagi semua masyarakat.
Karena Indonesia yang terkenal memiliki lahan subur dan pemerintah terus berupaya fokus untuk mendorong serta memajukan sektor pertanian, ternyata produksi bawang masih ketergantungan pada bawang impor.
"Itu artinya harapan pemerintah selama ini untuk memacu produk pertanian masih belum maksimal," kata politikus yang gemar dengan pertanian tersebut.
Oleh karena itu, kata dia, pemerintah harus kembali lebih memfokuskan anggaran dana untuk sektor pertanian sehingga para petani lebih giat mengembangkan tanaman yang menjadi kebutuhan pokok, sehingga ketika bawang impor mengalami gangguan atau keterlambatan, maka kebutuhan dalam negeri tercukupi dari hasil pertanian di Indonesia.
"Dengan demikian harga kebutuhan, seperti bawang harganyanya pun bisa tetap stabil. Artinya walau ada kenaikan harga, tapi tak terlalu melambung tinggi," ucap pria asal Kabupaten Jembrana ini.
Ia mengharapkan juga kepada pemerintah daerah agar terus memajukan sektor pertanian, karena gemerlapnya sektor pariwisata di Pulau Dewata tidak bisa lepaskan begitu saja sektor pertanian.
Karena mayoritas penduduk di pedesaan masih bergelut di sektor pertanian. Kesempatan ini semestinya pemerintah terus menggalakkan sektor penunjang sektor pariwisata yang menjadi primadona Pulau Dewata.
"Saya harapkan bantuan dana untuk mensubsidi para petani agar terus ditingkatkan, terutama untuk pembelian pupuk, bibit dan obat-obatan, sehingga hasil pertanian yang dihasilkan berkualitas," ujarnya.
Ia mengakui di kalangan generasi muda untuk terjun menjadi petani relatif menurun dibandingkan dengan 30 tahun lalu. Hal itu beralasan karena tingkat intelektual generasi sekarang lebih maju. Namun demikian bukan berarti tidak ada lagi petani di Indonesia, justru petani tetap ada di pedesaan.
"Hal inilah kesempatan pemerintah untuk terus memotivasi dan memberikan inovasi-inovasi baru, terutama dalam mengembangkan pertanian terpadu dengan menanam bibit unggul oleh para ahli atau pakar di perguruan tinggi hasil dari penelitian mereka," kata Pinta Yadnya.
Menyinggung melambungnya harga bawang belakangan ini, menurut Pinta Yadnya, karena stok kebutuhan itu kosong, sedangkan kebutuhan setiap hari harus tetap bisa terpenuhi, bahkan dalam hari-hari kebesaran keagamaan kebutuhan hasil pertanian bisa naik dua kali lipat dari hari-hari biasa.
"Sementinya kondisi ini harus bisa diantisipasi sedini mungkin, peran pemerintah dengan instansi terkait harus mampu menjaga harga bawang tetap stabil," katanya.
Berharap harga bawang turun
Sementara itu, Dinas Pertanian Tanaman Pangan Provinsi Bali memprediksi harga bawang merah dan bawang putih menjelang hari raya Galungan dan Kuningan akhir Mei dan awal April di Bali akan turun.
"Sekarang harga bawang sudah mulai turun dan kami berharap pekan depan harga sudah mulai normal. Mudah-mudahan menjelang hari raya Galungan dan Kuningan harganya sudah mulai normal," Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan Bali Ida Bagus Wisnu Wardhana di Denpasar, Selasa (19/3).
Ia mengatakan sejak harga bawang mengalami kenaikan cukup drastis tersebut, masyarakat merasakan dampaknya dengan kebutuhan pelengkap bumbu masak itu.
"Pemerintah sudah terus melakukan terobosan untuk mengendalikan persediaan bawang, sehingga pasokannya mampu memenuhi kebutuhan masyarakat, dengan demikian harganya juga menjadi normal," ujarnya.
Dikatakan saat ini harga bawang merah rata-rata berkisar Rp60 ribu per kilogram (kg) dan bawang putih Rp70 ribu per kg.
Sementara dalam beberapa pekan ke depan harga diprediksi kembali normal, yaitu bawang merah Rp20 ribu per kg dan bawang putih Rp30 ribu per kg.
Wisnu Wardhana optimistis harga bawang akan turun dalam beberapa pekan ke depan karena bawang impor yang tertahan di pelabuhan atau pintu masuk impor di sejumlah daerah di Indonesia, seperti di Surabaya, Makassar dan Jakarta, segera bisa disalurkan ke daerah dan pasar.
Hal itu, kata dia, karena pemerintah sejak awal tahun 2012 menerapkan kebijakan impor baru, antara lain importir produk pertanian harus dipersyaratkan atau dilengkapi dengan rekomendasi Kementerian Pertanian. Misalnya kalau ada panen tanaman holtikultura di Indonesia, pemerintah melarang mengimpor.
"Saat ini bawang putih impor sudah masuk di pelabuhan tetapi belum dilengkapi dengan dokumen rekomendasi impor maka sementara ini belum bisa dibongkar. Itu hambatannya sehingga harga bawang menjadi mahal," ucapnya.
Namun sekarang bawang di pelabuhan itu sudah mulai dibongkar sehingga dalam beberapa hari ke depan sudah bisa dikirim ke daerah dan masuk pasar. Dengan demikian pasokan bawang akan mencukupi dan diharapkan harga berangsur turun.
Sementara untuk bawang merah, kata Wisnu Wardhana, sejauh ini belum ada impor karena masih bisa dipenuhi oleh produksi dalam negeri.
"Masalah melonjaknya harga bawang merah di dalam negeri karena ada anomali iklim. Sentra produksi bawang merah yaitu di Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, banyak yang gagal panen. Namun kondisi itu akan segera teratasi dengan adanya panen di daerah lain," katanya.
Menyangkut potensi lahan bawang putih di Indonesia menurutnya memang sangat terbatas sehingga harus mengimpor misalnya dari China.
"Untuk bawang putih, dalam satu tahun kita hanya bisa menanam di lahan 40 hektare, kalau bawang merah setiap tahunnya ada terpenuhi lahannya," ujarnya.
Ia mengatakan untuk produksi bawang merah di Bali dalam setahun bisa mencapai 750 ton. Jumlah ini cukup untuk memenuhi kebutuhan 50 persen dari kebutuhan Bali yang mencapai 325 ton per tahunnya. Sementara sisanya didatangkan dari luar Pulau Dewata terutama dari Kabupaten Brebes, Jawa Tengah.
"Produk lokal seperti bawang merah, Bali memang masih bisa memproduksi secara mandiri karena sudah memiliki lahan pertanian seperti di Desa Songan, Kintamani, Kabupaten Bangli. Sementara untuk lahan pertanian bawang putih dahulu ada di Penebel, Kabupaten Tabanan dan di Desa Selat, Kabupaten Karangasem, meski kualitasnya masih kalah dengan produk impor," katanya. (IGT)
: Masuki
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.