Pemilik Maha Art Space Agus Maha Usadha di Denpasar, Rabu menjelaskan, pameran tersebut merupakan spirit bersama untuk membangkitkan energi kreatif menjalani tahun 2010, sekaligus menyambut datangnya tahun baru Imlek.
"Semangat ini mudah-mudahan mendorong kita menuju ke berbagai pencapaian prestasi sepanjang tahun," katanya.
Menurut Agus, keberhasilan melewati 2009 yang penuh dengan gejolak, baik secara ekonomi, sosial maupun politik, telah mematangkan warga, termasuk seniman, untuk lebih disiplin sesuai aktivitas masing-masing. "Karya seni ikut ambil bagian dalam merefleksikan keinginan kuat melewati tahun ini dengan gemilang," ucapnya.
Seniman yang ikut menampilkan karyanya adalah Antonius Kho, Cundrawan, Gede Artha, I Made Budiadnyana, I Made Dolar Astawa, I Made Romi Sukadana, I Made Sutakesuma, I Made Wiradana, I Nyoman Ari Winata, I Putu Edy Asmara Putra, I Putu Sudiana Bonuz, I Wayan Apel Hendrawan.
Kemudian I Wayan Hendra Kusuma, IB Puja, Kadek Wijana, Ketut Teja Astawa, Ketut Tenang, Kondang Sugito, Made Duatmika, Made Kaek, Nyoman Wijaya, Uuk Paramahita, V Dedy Reru, Wayan Anyon Muliastra, Wayan Pastika, Wayan Redika, Wayan Sumantra, dan Made Supena.
Menurut Agus, berbagai gaya seni rupa akan dapat ditemukan dalam pameran tersebut, namun didominasi karya-karya realis yang memperlihatkan kecenderungan menguat, seiring berhembusnya isu seni rupa kontemporer belakangan ini.
Sebagian besar perupa menyajikannya dengan berbagai kode realisme yang bisa ditemukan dalam dunia sehari-hari, yakni lingkungan alam, manusia, sosial-politik hingga berbagai produk industri yang memenuhi budaya urban.
Para perupa melakukannya dengan berbagai strategi visual. Bali memiliki kekhasan yang membedakannya dengan wilayah-wilayah lain di Indonesia. Alam Bali merupakan perpaduan desa-kota, pegunungan-laut. Keduanya hadir secara serentak.
"Di pulau ini kita bisa menemukan sawah dan kehidupan rural. Laut-gunung juga bukan wilayah terpisah. Pesisir-daratan bukan dua belahan budaya berbeda seperti terjadi di Jawa. Keserentakan ini juga berlangsung antara tradisi-modern, ritual dan aktivitas ekonomi sehari-hari," ujarnya.
Penurunan dari keserentakan itu ditemukan analoginya pada tradisi seni rupa Bali yang sering disebut non-perspektif. Tidak memiliki fokus maupun objek sentral. Semuanya hadir serentak.
Sebuah komunitas visual yang mengingatkan pada kepadatan mantra, sesuatu yang berulang dan serempak, memprovokasi kedalaman, vibrasi dan intensitas. Narasi (Fabel maupun Tantri) tidak membangun korespondensi, melainkan membangun ritme dan kepadatan.
Keserentakan untuk persembahan, doa-doa dan kebersamaan. Makhluk, baik manusia, binatang maupun mahluk-mahluk mitologis, membaur tidak lebih tinggi dengan alam sekitarnya. "Untuk teknik, umumnya garis atau torehan, bergerak seperti hujan atau kepadatan suara serangga," katanya.
Keserentankan itu bagi seni rupa Bali kontemporer kini, muncul dengan pewarnaan yang provokatif, pembagian bidang-bidang tajam untuk komposisi, maupun maksimalisasi detil untuk menghasilkan vibrasi. Super-realis lewat pembesaran obyek yang menggantikan atom-atom objek seni rupa tradisi.
Selain itu, beberapa strategi visual lainnya yang dilakukan lewat bantuan peralatan media digital. "Lalu bagaimanakah membaca seni rupa kontemporer daerah ini dalam konteks Bali itu sendiri?" tanyanya.
Menurut dia, ada kesan keserentakan itu mulai goyah, misalnya persembahan berganti dengan kesaksian, doa-doa berganti protes. Bidang kian dilihat sebagai ruang untuk menjalankan strategi visual dari gagasan-gagasan yang ingin ditumpahkan.
"Bukan lagi ruang untuk persembahan. Beberapa karya dalam pameran ini rupanya membuktikan penjelasan tersebut," katanya.(*)
: Masuki
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.