Denpasar (ANTARA) - Generasi muda Bali menunjukkan kemampuan melestarikan seni tradisi melukis wayang klasik melalui wadah wimbakara atau lomba Seni Lukis Wayang Klasik Bali dalam rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026.
“Saya belajar membuat lukisan klasik khas Batuan dari kelas 3 SD, sedangkan untuk belajar membuat lukisan wayang seperti Kamasan lebih efektif di saat saya SMA yaitu di SMSR Bali,” kata Putu Lingga, salah satu peserta muda Duta Kabupaten Gianyar di Denpasar, Senin.
Menurut dia, seni lukis klasik menjadi pilihan karena memberikan ruang untuk mengekspresikan identitas dirinya sebagai perupa, meskipun tetap terbuka terhadap perkembangan seni modern.
“Saya memilih seni lukis klasik karena saya lebih merasa diri saya memiliki karya, tetapi juga saya tidak antimodernisasi,” ujarnya.
Dalam perlombaan di PKB 2026, para peserta menggunakan media kertas untuk membuat karya.
Namun di luar kompetisi, Lingga sendiri mengaku lebih sering melukis gaya Batuan di atas kanvas.
“Kalau saat kompetisi di PKB 2026 semua menggunakan kertas, tetapi di rumah saya biasanya melukis gaya Batuan di kanvas, dan saya sangat merasa merdeka karena bisa memiliki kompetensi itu,” katanya.
Ia menilai kemampuan melukis wayang klasik yang diwarisi dari tradisi seni Bali merupakan kebanggaan yang perlu dijaga sekaligus dikembangkan agar bermanfaat bagi masyarakat.
“Pastinya saya merasa bangga bisa mewarisi budaya leluhur kita di Bali, semoga bisa berguna di masyarakat dan juga kebutuhan ekonomi,” ujar Lingga.
Sementara itu, juri lomba I Made Yasana mengatakan para peserta menampilkan karya terbaik mereka dengan berpedoman pada tema dan ketentuan yang telah ditetapkan panitia.
Menurut dia, penilaian dilakukan berdasarkan keindahan karya, proporsi, kesesuaian dengan tema PKB, serta kepatuhan terhadap pakem seni lukis wayang klasik Bali.
“Mereka membuat yang terbaik menurut mereka dan kriteria penilaiannya itu menurut keindahan proporsi, jangan sampai beda dengan tema PKB, dan juga tidak melanggar pakem yang memang tidak bisa diubah,” kata Yasana.
Ia menjelaskan pakem menjadi unsur penting yang harus dijaga karena merupakan identitas dasar dari tokoh-tokoh wayang yang digambarkan dalam karya.
“Pakem itu tidak boleh diubah, misalnya seperti gelung Bima diganti dengan gelung Kresna itu tidak bisa,” ujarnya.
Meski demikian, Yasana menilai kreativitas generasi muda tetap perlu diberikan ruang agar seni tradisional terus berkembang dan tidak kehilangan daya tariknya.
“Masalah pengembangan generasi muda tidak bisa kita batasi nanti karyanya menjadi mati dan kreativitas terbatas berjalan mengalir saja tapi pada dasarnya yang baku tidak boleh dirubah,” katanya.
Wimbakara Seni Lukis Wayang Klasik Bali menjadi salah satu upaya regenerasi seniman muda dalam menjaga keberlanjutan seni tradisi Bali, sekaligus membuktikan bahwa seni klasik tetap relevan dan diminati oleh generasi muda di tengah perkembangan zaman.
Pewarta: Ni Putu Putri Muliantari/SilviaEditor : Ardi Irawan
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.