"Sudah satu bulan lebih harga telur tidak kunjung naik, masih tetap per butir Rp630 atau Rp18.900 perkrat (30 butir), " ujar Pan Suyasa, peternak asal Desa Babahan, Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan, Bali, Kamis (24/12).
Padahal biaya operasional cenderung naik mulai harga pakan seperti konsentrat, jagung dan gabah termasuk harga bibit ayam serta biaya operasional lainnya. Karenanya dengan harga telur di tingkat peternak yang terus menurun itu, mereka mengalami kerugian.
Kondisi ini berbeda jauh dibanding bulan-bulan sebelumnya, dimana harga telur ditingkat peternak bisa mencapai Rp770 perbutir atau Rp23.100 perkrat. Sementara di tingkat pengecer di warung-warung kata dia, harganya relatif stabil mencapai Rp100 perbutir.
Dikatakan Pan Suyasa, para peternak tidak berdaya menghadapi penurunan harga telur sehingga yang bisa dilakukan saat ini adalah menerima. Pihaknya tidak bisa menaikkan harga karena semua harga dikendalikan oleh pasar.
"Kalau harga saya naikkan, sulit menjualnya, tidak mungkin menyetok telur dalam jumlah besar karena setiap hari ayam terus bertelur," ungkap Pan Suyasa yang mengaku memiliki sekitar 1.000 ekor ayam petelur.
Menyikapi harga yang tidak bersahabat bagi peternak itu, maka Pan Suyasa menyiasatinya dalam penggunaan pakan ternak dengan mengurangi perbandingan jumlah pakan pabrikan konsentrat sehingga biaya pakan bisa ditekan.
Jika sebelumnya dengan perbandingan untuk jagung, gabah, konsentrat 2:2:1, kini dikurangi dengan perbandingan 1,5: 1,5 :0,5. Meskipun ini diakuinya bisa mempengaruhi produksi telur namun bisa menolong untuk menekan biaya operasional sehari-hari.
Namun pengurangan komposisi pakan itu sifatnya sementara, jika harga telur sudah mulai naik sehingga peternak bisa mendapat keuntungan lebih, maka takaran pakannya akan disesuaikan seperti dalam kondisi normal.
Selain itu, jika stok telur menumpuk maka ia memilih barter telur dengan pakan ternak sehingga telurnya bisa cepat terjual. "Biasanya saya tukar telur dengan pakan ternak," aku pria yang menggeluti usaha ternak sejak awal tahun delapan puluhan itu.
Hal sama disampaikan Made Darni, karena harga terus merosot padahal permintaan tinggi membuat dirinya tidak habis mengerti, kenapa harga justru turun. Iapun hanya bisa pasrah,
Dari informasi yang diterimanya dari para peternak lainnya, kondisi ini dipicu banyaknya telur asal luar Bali yang masuk ke pasaran. Permintaan telur kata dia juga masih tetap tinggi baik yang dijual ke pengepul maupun yang dijual langsung ke pasar.
Di Kecamatan Penebel dikenal sebagai sentra andalan peternakan ayam di Tabanan yang bisa ditemui di Desa Babahan, Utu dan Senganan. Hampir sebagian besar masyarakatnya menekuni usaha ternak ayam dengan lokasi kandang di sepanjang jalan dari Penebel ke utara hingga Desa Senganan. (*)
Editor : Masuki
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.