"Setelah kami promosikan melalui berbagai kegiatan skala daerah dan nasional, citra kain tenun khas Bali ini semakin baik sehingga banyak yang berminat dan diminta untuk dikirimi, seperti dari Malaysia dan Burnei Darussalam," kata Ketua Dekranasda Kota Denpasar Ida Ayu Selly D Mantra, Sabtu.
Istri Wali Kota Denpasar itu menuturkan, namun permintaan tersebut kemungkinan dapat tidak bisa dipenuhi karena saat ini jumlah perajin kain tersebut semakin berkurang.
Menurut dia, penyebabnya adalah tidak ada regenerasi, karena kaum muda saat ini memilih menjadi pegawai swasta daripada harus menjadi perajin itu.
"Salah satu upaya guna mempertahankan produktifitas dari kain tenun itu, kami kembangkan program ekstrakulikuler menenun di sejumlah sekolah. Tujuannya supaya ada generasi penerus sehingga dapat menjaga produksi endek sekaligus memenuhi permintaan dari luar negeri," ujarnya.
\
Dia berharap program tersebut dapat berjalan dengan baik sehingga ada generasi penerus yang mampu memenuhi permintaan akan produk kerajinan khas Pulau Dewata tersebut.(IGT)
: Masuki
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.