"Jadi kalau ada pihak tertentu yang ingin coba-coba mengganggu keamanan dan ketertiban, lebih baik jangan dilanjutkan. Kami sangat siap dan koordinasi rapi dengan pihak lain, semisal TNI, masyarakat adat, ASDP, Bandar Udara Ngurah Rai, hingga pemilik usaha keramaian telah dilakukan," katanya kepada ANTARA, di Denpasar, Selasa siang.
Sejak beberapa pekan lalu, ribuan polisi telah bersiaga di jalan-jalan untuk meningkatkan kualitas keamanan dan keteriban umum di Bali. Khusus untuk pengamanan Natal 2009 dan tahun baru 2010, sekitar 8.000 polisi dibantu personel TNI secara formal telah disiagakan.
Menurut Sugianyar, jumlah 8.000 polisi itu merupakan 60 persen dari polisi yang tergabung dalam Kepolisian Daerah Bali. "Di lingkungan Kepolisian Kota Besar Denpasar, jumlahnya 1.800 petugas yang dibagi dalam beberapa termin penugasan. Pola seperti itu juga diterapkan di seluruh Bali," katanya.
Secara khusus, terdapat penguatan pengamanan di Bali di sejumlah lokasi umum, termasuk gereja-gereja yang akan dipergunakan umat Kristiani untuk melaksanakan kebaktian dan misa Natal. Selain itu juga tempat keramaian lain dan lokasi-lokasi hiburan, serta rumah-rumah makan yang cukup ramai dikunjungi pembeli.
"Kalangan umum bisa melihat seperti itu, tetapi jajaran intelijen semua pihak juga terus bergerak untuk menganalisis keadaan. Jangan sampai kami kecolongan, karena kita semua ingin Bali yang aman dan damai," kata Sugianyar.
Menurut jadual, pada 31 Desember nanti akan dilaksanakan apel siaga sebelum semua petugas itu disebar ke titik-titik yang harus diamankan. Sejak pukul 15.00 WITA pada 31 Desember nanti, sebagai misal, kawasan Kuta akan ditutup untuk kendaraan bermotor sehingga akan terjadi pengalihan arus lalu-lintas kendaraan.
Dengan begitu, pengunjung dan wisatawan yang ingin melewatkan waktu akhir tahunnya di kawasan Kuta, terutama di Jalan Pantai Kuta, harus berjalan kaki. Dari tahun ke tahun, Pantai Kuta selalu menjadi lokasi keramaian utama di Bali pada malam pergantian tahun.
Karena begitu ramai, bahkan untuk berjalan kaki saja sampai berdesak-desakan di jalan dan kawasan yang membentang sekitar empat kilometer itu. "Lokasi seperti itu jelas menjadi salah satu fokus pengamanan petugas. Ini harus disikapi dengan kewaspadaan yang tinggi," kata Sugianyar.
Rumah makan di Bali pernah menjadi sasaran bom bunuh diri oleh jaringan teroris. Pada 2005, tiga kafe dan rumah makan ramai pengunjung di kawasan Jimbaran, Kabupaten Badung, salah satunya Kafe Nyoman, dijadikan target pembom bunuh diri.
Peristiwa yang dikenal sebagai Bom Bali II yang terjadi hanya tiga tahun setelah Bom Bali I, menjadi pukulan luar biasa kepada Bali dan perekonomian nasional, karena menimbulkan ketakutan bagi para turis internasional dan dalam negeri untuk datang ke Bali.
Perlu waktu bertahun-tahun untuk memulihkan kembali industri pariwisata Bali, yang pascaperistiwa Bom Bali II itu kembali menimbulkan gelombang besar PHK. (*)
: Masuki
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.