"Target 2010 tersebut didasarkan pada pencapaian pertumbuhan ekonomi dalam tahun 2008 yang hanya mencapai 5,97 persen," katanya saat memberikan jawaban atas pandangan umum fraksi terhadap rancangan peraturan daerah (Ranperda) APBD Provinsi Bali 2010 di Denpasar, Senin.
Untuk tahun ini, katanya, pertumbuhan ekonomi Bali awalnya ditargetkan sebesar 6,5 persen yang kemudian mengalami revisi pada anggaran perubahan 2009 menjadi5,74 persen. Namun dalam perjalananya sampai akhir tahun anggaran 2009 diasumsikan hanya tercaapai 5,22%.
Menurut Made Mangku Pastika, terdapat faktor internal dan eksternal yang menyebabkan target pertumbuhan ekonomi Bali mengalami penurunan. Beberapa faktor eksternal diantaranya krisis finansial global yang belum pulih.
"Selain itu juga belum stabilnya harga minyak dunia, keadaan musim dan cuaca yang mempengaruhi produk hasil pertanian, terutama padi dan hasil tangkapan ikan. Sedangkan faktor internal yang mempengaruhi yaitu penyediaan infrastruktur yang belum optimal dan pergerakan harga yang masih belum terkendali," katanya.
Ia mengakui bahwa pada dasarnya pemerintah belum dapat sepenuhnya mengendalikan harga.
Ia menyebutkan, jika dibandingkan dengan target pertumbuhan ekonomi nasional terlihat bahwa target pertumbuhan ekonomi Bali telah melampaui target pertumbuhan ekonomi nasional yang hanya mencapai 4,5 hingga 5 persen.
Berkenaan dengan target yang ditetapkan dalam RPJMD Provinsi Bali dari 2008-20013, maka pada akhir 2013 diharapkan mencapai 7,4 persen dengan rata-rata pertumbuhan per tahun mencapai 7,25 persen.
"Penetapan asumsi target ini didasarkan pada keadaan trend linier beberapa tahun sebelumnya, sehingga target pertumbuhan ekonomi yang ditetapkan dalam RPJMD 2010 juga harus dikoreksi," ujarnya.
Dia mengungkapkan, Pemerinntah Provinsi Bali akan tetap berupaya memacu program-program pembangunan di bidang ekonomi yang dapat memberikan kontribusi signifikan sehingga target pertumbuhan ekonomi sebesar 6 persen dapat tercapai.
Apalagi, katanya, tidak tercapainnya target pertumbuhan ekonomi tahun 2009 lebih disebabkan karena pengaruh inflasi yang relatif tinggi mulai triwulan III tahun 2008 yang hampir mencapai dua digit, yaitu sebesar 9,62 persen.
"Ini memberikan pengaruh berlanjut terhadap target pertumbuhan ekonomi di 2009," katanya.
Menyinggung tidak tercapainnya target sektor tersier dari 65,38 persen diasumsikan menjadi 64,80 persen, Ia beralasan hal tersebut lebih diakibatkan oleh tingginya inflasi 2008, khususnya yang menyebabkan meningkatnya kontribusi sektor primer dan sektor sekunder dan tetap berpengaruh pada kondisi perekonomian 2009. (*)
: Masuki
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.