Tabanan (Antara Bali) - Sedikitnya 200 orang pelajar dari berbagai kota di Indonesia antusias mendalami mengenai sistem irigasi tradisional Bali atau subak di Desa Jatiluwih, Kabupaten Tabanan, Senin.

"Kami ingin mereka berpartisipasi dan mempelajari beragam budaya yang ada di Bali, salah satunya Subak, lanskap atau tata ruang budaya yang diusulkan sebagai warisan budaya dunia," kata pimpinan lembaga kursus Bahasa Inggris, EF Indonesia, Arleta Darussalam, di Tabanan.

Kegiatan belajar di luar kelas tersebut sekaligus juga menjadi wahana mengisi musim libur panjang sekolah dengan kegiatan positif.
    
Menurut dia, belajar subak tersebut sangat penting guna menumbuhkan apresiasi budaya dan tradisi kepada generasi muda agar tidak dilupakan ditengah gempuran globalisasi.
    
Mereka mempelajari budaya bercocok tanam khas Bali pada lahan pertanian dengan mempraktekkan cara memanen padi.
    
Dengan didampingi para petani setempat, para pelajar yang berusia delapan hingga 18 tahun itu antusias mengikuti arahan memotong tangkai buah padi menggunakan "anggapan" atau ani-ani.
    
"Memanen padi ternyata tidak mudah, saya sekarang bisa lebih menghargai petani dan tidak akan membuang-buang nasi pada saat makan, karena memanen padi itu ternyata sulit," kata Ratih, seorang pelajar.(DWA/M038/T007)



Editor : Nyoman Budhiana

COPYRIGHT © ANTARA 2026