Jember (Antara Bali) - Peneliti yang juga Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Sulanjari, menemukan obat antikanker, yakni akar kuning (Arcangelicia flava) di kawasan Taman Nasional Meru Betiri.

Profesor Dr.Ir. Sulanjari yang juga Kepala Pusat Penelitian Bioteknologi dan Biodiversitas UNS telah melakukan penelitian untuk mengkaji pengembangan akar kuning dari dari jenis tumbuhan kayu kuning (Arcangelicia flava Merr) yang termasuk familia Menispermaceae bagi ketersediaan bahan baku pengobatan herbal yang berpotensi "hepatoprotector" dan antikanker tersebut.

Kepala Balai Taman Nasional Meru Betiri (TNMB), Bambang Darmadja, Jumat, mengatakan kayu kuning tersebut tumbuh di wilayah Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) II Ambulu tepatnya di Resort Andongrejo dan tanaman obat tersebut dinyatakan langka berdasarkan "International Union for the Conservation of Nature and Natural Resources" (IUCN Red List).

"Beberapa peneliti termasuk, Sulanjari, telah membuktikan khasiat obat dari tumbuhan kayu kuning itu dapat dimanfaatkan sebagai obat antikanker, antimalaria, menyembuhkan kanker serviks, kanker prostat, dan antibakter lainnya," tuturnya di kantor TNMB di Kabupaten Jember, Jawa Timur.

Menurut dia, keanekaragaman hayati jenis flora dan fauna di TNMB cukup tinggi sehingga mempunyai potensi yang sangat besar dalam menunjang kehidupan umat manusia baik di bidang sandang, bidang papan dan bidang pangan maupun di bidang kesehatan.

"Kami menyambut baik atas penemuan tanaman obat tersebut karena dapat menambah daftar jenis tanaman obat di kawasan Meru Betiri," katanya.(IGT)



: Masuki

COPYRIGHT © ANTARA 2026