Denpasar (Antara Bali) - Pasokan vaksin antirabies untuk anjing pada pelaksanaan vaksinasi tahap ketiga di Bali terancam terputus karena ada permasalahan administrasi dalam proses pengadaannya, kata Kepala Biro Humas Pemprov Bali I Ketut Teneng.

"Kami akan mencoba untuk segera memecahkan persoalan pasokan dan harapannya bulan Juli vaksinasi dapat segera dilanjutkan kembali. Pembiayaan vaksin dengan nilai total Rp4,6 miliar ini dibantu pemerintah pusat, namun tender dilaksanakan di daerah," ucapnya di Denpasar, Selasa.

Ia mengatakan sejatinya Unit Layanan Pengadaan (ULP) Pemerintah Provinsi Bali telah menjalankan proses pengadaan vaksin tersebut dan sudah ada pemenang tendernya. Hanya saja, ditemukan ada unsur yang tidak memenuhi syarat yaitu mengenai registrasi dari perusahaan yang menyiapkan vaksin itu di Kementerian Pertanian yang ternyata sudah mati sejak 2011.

"Pihak Dinas Peternakan sudah melakukan surat-menyurat dan komunikasi dengan Menteri Pertanian maupun dengan Irjen di Kementerian Pertanian dan disarankan untuk dilakukan tender ulang," ucapnya.

Saat ini, stok vaksin antirabies yang ada di kabupaten tinggal sekitar 4.500 dosis dan itu hanya cukup digunakan tidak sampai akhir Mei ini, sedangkan pengadaan yang menjadi tertunda ini direncanakan untuk 375 ribu dosis.

Sementara itu, I Wayan Mudiarta, Manajer Operasional Yayasan Yudisthira Swarga sebagai salah satu organisasi nirlaba yang telah bekerja sama dengan Provinsi Bali dan khususnya Kota Denpasar untuk program vaksinasi rabies massal mengatakan bahwa pihaknya terpaksa menghentikan program vaksinasi tahap ketiga sejak 27 April 2012 karena tidak adanya pasokan lagi.(LHS)



Editor : Masuki

COPYRIGHT © ANTARA 2026