Oleh  I Ketut Sutika

Denpasar (Antara Bali) - Warga masyarakat mulai dari anak-anak, remaja, orang dewasa, bahkan ibu-ibu rumah tangga menggoreskan tangan di atas kanvas menciptakan warna menyerupai satu bentuk atau simbol yang kaya akan makna.

Jiwa seni yang diwarisi masyarakat Desa Kamasan, Kabupaten Klungkung, 45 km timur Denpasar, Bali, kini diwariskan kembali kepada anak cucunya, sehingga lukisan klasik Bali atau yang lebih dikenal lukisan gaya kamasan itu tetap lestari.

Bahkan sepuluh desa adat di Kamasan, Kabupaten Klungkung itu secara aktif akan mendukung pelaksanaan internasional Festival Bali Bangun yang  digelar Museum Seni Lukis Klasik Bali, kata penggagas kegiatan tersebut Drs I Nyoman Gunarsa.

Maestro seniman Bali yang juga pendiri dan pengelola Museum Gunarsa itu menggelar kegiatan bertaraf internasional untuk memberikan inspirasi dan meningkatkan mutu seni lukis klasik Bali, sekaligus mampu sejajar dengan pelukis-pelukis dari berbagai negara di belahan dunia.

Kegiatan bertaraf internasional yang diharapkan bisa dilakukan berkesinambungan, minimal sekali dalam tiga tahun itu, menyuguhkan seni lukis klasik para leluhur orang Bali yang kini menjadi koleksi museum di berbagai negara di belahan dunia.

Pameran perdana akan digelar di Museum Gunarsa selama sebulan, mulai 15 Juli hingga pertengahan Agustus 2012 melibatkan pengelola museum dari Australia, Amerika Serikat, Italia, Prancis, Swis, Belanda dan tuan rumah Indonesia.

Museum Indonesia yang berperanserta antara Museum Neka, Arma, Puri Lukisan, ketiganya berlokasi di perkampungan seniman Ubud, Kabupaten Gianyar, Museim Fasifik, Nusa Dua dan tuan rumah Museum Gunarsa.

Masing-masing museum di dalam dan luar negeri itu akan memamerkan dua hingga empat koleksi terbaiknya mengenai karya seni lukis klasik Bali.

Dalam pameran yang dimeriahkan dengan festival gamelan gong kebyar melibatkan peserta dari Amerika Serikat, Jepang dan Kanada itu menekankan harkat dan nilai seni lukis klasik Bali yang pernah mengalami puncak keemasan dan kejayaan pada abad XV,  zaman pemerintahan keturunan Dalem Sri Aji Kresna Kepakisan, trah Majapahit di Bali.

Bali saat itu di bawah pemerintahan Dalem Waturenggong, yang mampu mengangkat posisi para seniman-seniman di masyarakat dan memasyarakatkan karya-karya seni menjadi mendunia.

Mantan dosen Institut Seni Indonesia Yogyakarta itu berambisi menjadikan seni lukis klasik Bali sebagai garda terdepan budaya bangsa mengawal dan melestarikan seni budaya Bali dalam era global, di samping memberikan kontribusi positif terhadap pembangunan karakter bangsa dan perkembangan pariwisata budaya Bali di era persaingan yang semakin ketat.

Kegiatan itu sekaligus diharapkan mampu mendorong dan motivasi semua elemen masyarakat dan seniman tradisional klasik untuk lebih kreatif dan produktif membudayakan seni menuju manusia jagadhita (kesempurnaan).


Nilai historis
Pembantu Rektor I Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar Drs I Ketut Murdana, M.SN menuturkan, Kamasan adalah salah satu Desa di kabupaten Klungkung, Bali yang memiliki nilai historis terhadap perkembangan karya seni lukis klasik Bali.

Salah seorang warga setempat Ida Bagus Gelgel (alm), seniman serba bisa, semasa hidupnya pernah mendapat penghargaan seni dari pemerintah Prancis pada tahun 1930, atau 82 tahun yang silam.

Penghargaan itu diraihnya berkat keahlian menciptakan karya seni yang bermutu di atas kanvas saat yang bersangkutan mengadakan pameran ke beberapa negara di belahan dunia.

"Berkat promosi lewat pameran perdana seniman Bali ke mancanegara itu, Pulau Dewata mulai dikenal, dan sejak saat itu pula, seniman asing berdatangan dan memilih kawasan Ubud, tempat untuk mengembangkan kreativitas seni," tutur Ketut Murdana yang juga  seniman yang sukses menggelar pameran tingkat lokal, nasional dan internasional.

Klungkung, khususnya Desa Kamasan merupakan cikal bakal pengembangan seni lukis tradisional di Bali, karena 82 tahun silam hasil kreativitas seniman setempat sudah mampu berbicara di tingkat nasional maupun internasional.

Dalam perkembangannya, seni lukis Klungkung, khususnya Desa Kamasan tetap tampil dengan ciri khas tradisional yakni lukisan wayang Kamasan, namun kurang mampu mengikuti perkembangan seni lukis yang berkembang pesat di perkampungan seniman Ubud.

"Adanya upaya Desa Kamasan membangun kawasan 'art centre', dan pameran 'Bali bangun' merupakan terobosan untuk meraih kembali kejayaan seni lukis dan jenis kesenian lainnya yang pernah diwarisi sejak masa lalu," tutur  Murdana yang juga seniman andal dalam bidang lukis.

Bali mengalami kemajuan dan perubahan, namun nilai seni budaya daerah tetap lestari serta menjadi kekuatan bagi masyarakat pendukung dalam mengembangkan berbagai usaha, khususnya industri kecil dan kerajinan rumah tangga, yang kini menjadi tulang punggung perolehan ekspor nonmigas.

Demikian pula pergeseran nilai-nilai budaya akibat kontak dengan dunia luar, tidak menjadi masalah bagi masyarakat Pulau Dewata. Kondisi demikian justru sebaliknya, masyarakat mancanegara kagum atas kemampuan masyarakat Bali mengembangkan dan melestarikan seni budaya sebagai salah satu daya tarik wisata.

Seni budaya Bali yang cukup dikagumi dunia internasional itu seharusnya juga menjadi kebanggaan masyarakat pendukungnya di Pulau Dewata.


Harumkan Bali
Menurut Murdana, karya seni lukis menjadi salah satu sumber daya masyarakat yang mampu mengangkat dan mengharumkan Bali di tingkat nasional maupun internasional. Banyak pelukis Bali muncul dengan mengusung bendera seni lukis Bali sebagai sebuah proses kreatif unggulan.

Proses kreatif seni kanvas tersebut berdampak positif terhadap pengembangan seni budaya, membangun sosial ekonomi masyarakat serta martabat seniman di forum internasional.

Proses pembelajaran seni lukis Bali dilakukan melalui jalur formal dan informal, yang keduanya secara terpadu mampu membangun identitas tersendiri. Melalui jalur formal seni lukis ditempatkan sebagai salah satu minat utama, di samping seni patung.

Karaktristik pengembangan seni lukis dihadapkan pada persoalan identitas peta seni lukis  dunia, terutama seni lukis barat yang pengaruhnya telah melanda dunia. "Kita dihadapkan pada arus besar untuk membangun dan mengembangkan identitas yang diharapkan dapat bersaing," ujar Murdana.

Pengembangan potensi lokal yang ditetapkan dalam kurikulum lembaga pendidikan formal seperti di ISI Denpasar mampu memberikan peluang besar dalam membangun identitas, meskipun tidak mungkin bisa dijawab dalam waktu singkat.

Langkah-langkah dan potensi perlu dipersiapkan dan digarap sejak dini, yang memungkinkan untuk dikompetisikan di tingkat internasional, salah satunya seni yang ditempatkan pada urutan terdepan, setelah bidang-bidang ilmu lainnya.

Beberapa pertimbangan yang melatar belakangi, bahwa seni lukis Bali telah mampu berbicara lintas budaya, lintas bangsa dan membawa citra tersendiri bagi Bali dan Indonesia umumnya.

Menurut Murdana, dua seniman warga negara asing masing-masing Walter Spies dan Rodulf Bonnet mempunyai pengaruh sangat besar  terhadap perubahan karya-karya pelukis di Pulau Dewata.

Walter Spies, warga negara Jerman dan Rodulf Bonnet, warga negara Belanda yang secara kebetulan menemukan inspirasi dalam merampungkan karya seni memunculkan kebebasan kreatif kepada seniman setempat.

Perubahan karya-karya seniman Bali dari seni lukis klasik ke kebebasan kreatif maupun perluasan tema terjadi sejak tahun 1929. Kedua seniman asing yang menyatu dalam kehidupan masyarakat Bali, bergabung dengan organisasi kelompok pelukis dan pematung Pita Maha Ubud.

Kedua seniman asing itu ikut memberikan dorongan kepada seniman Bali agar mereka mampu bersaing dalam menghasilkan karya seni yang baru.(*/T007)


: Nyoman Budhiana

COPYRIGHT © ANTARA 2026