"Melasti jangan sebatas dimaknai ritual iring-iringan membawa sesajen dan arca suci ke sumber-sumber mata air menjelang Nyepi," katanya, di Denpasar, Selasa.
Ia menyampaikan, dengan melasti menjadi wujud pendalaman sikap manusia, setelah selama setahun berorientasi pada "pendakian" kehidupan.
"Pendakian berarti kita berada di atas dan melihat segala sesuatunya berada di bawah. Oleh karena itulah, harus diimbangi dengan pendalaman sikap. Pendalaman diarahkan pada upaya memahami apa yang ada di dalam diri," ucap Pandita yang juga sering mengisi ceramah mengenai Agama Hindu di stasiun televisi lokal itu.
Jika kedalaman rasa tidak ada, kata dia, maka manusia hanya akan berlaku formal-formal saja.
"Dengan rendah hati, umat diharapkan pula bisa menerima kebaikan dan keburukan yang menimpanya sebagai sebuah motivasi hidup," ujarnya.(LHS/T007)
Editor : Nyoman Budhiana
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.