"Tol sepanjang 10 KM ini, jika tak ada halangan, konstruksinya sudah bisa dimulai pada November tahun ini," kata Direktur Utama PT Jasa Marga Tbk Frans S Sunito saat dihubungi di Jakarta, Selasa.
Dia menjelaskan, konsorsium pelaksana proyek senilai Rp1,8 triliun itu saat ini sedang menunggu surat izin dari Kementerian Lingkungan Hidup terkait penggunaan lahan mangrove.
Proyek ini pun sudah mengantongi perpres dan perda tata ruang kawasan strategis nasional, Kawasan Perkotaan Denpasar-Badung-Gianyar-Tabanan (Sarbagita).
Frans mengkhawatirkan, jika proyek tersebut tidak segera dimulai, maka target penyelesaian sebelum pertemuan APEC 2013, tidak akan tercapai.
Jika tol tersebut beroperasi nantinya, lanjut Frans, maka persoalan kemacetan antara Denpasar menuju Nusa Dua, Bali, pada saat jam sibuk akan teratasi.
Kepala Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) Ahmad Ghani Ghazali saat dihubungi terpisah membenarkan bahwa proyek itu tinggal menunggu Amdal-nya saja.
"Amdal-nya itu nanti akan dicantumkan dalam dokumen yang akan dinegosiasikan dengan konsorsium tujuh BUMN," kata Ghani.
Pemerintah telah menetapkan BUMN yang terdiri dari PT Jasa Marga sebagai pemegang saham mayoritas, PT Pelabuhan Indonesia III, PT Angkasa Pura I dan Bali Tourism Development Centre, PT Wijaya Karya dan PT Hutama Karya, dan PT Adhi Karya sebagai pemenang tender jalan tol Serangan-Tanjung Benoa.
PT Jasa Marga persero (Tbk) menjadi mayoritas kepemilikan saham di tol Serangan-Tanjung Benoa sebesar 60 persen.
Sementara, pemegang saham lainnya adalah PT Pelindo III 20 persen, PT Angkasa Pura I 10 persen, Bali Tourism Development Center satu persen, Hutama Karya dua persen, Wijaya Karya lima persen dan Adhi Karya dua persen.(*)
Editor : Nyoman Budhiana
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.