"Kami prakirakan keseluruhan tahun 2019 akan mengalami akselerasi dan tumbuh kisaran 6-6,4 persen," kata Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali Causa Iman Karana di Denpasar, Rabu.
Kisaran pertumbuhan ekonomi Bali itu lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi tahun 2018 yang diperkirakan berada pada kisaran 5,9-6,3 persen.
Empat sektor lapangan usaha itu, lanjut dia, merupakan sektor utama yang sebagian besar menopang industri pariwisata di Bali.
Causa, dalam kajian ekonomi dan keuangan regional November 2018 menambahkan lapangan usaha yang tumbuh melambat tahun ini diperkirakan sektor konstruksi.
Perlambatan itu, kata dia, seiring turunnya volume dan nilai perdagangan proyek konstruksi dibandingkan periode tahun sebelumnya.
Sementara itu dari sisi permintaan, akselerasi ekonomi Bali didorong meningkatnya tiga komponen utama yakni konsumsi pemerintah, ekspor luar negeri dan konsumsi rumah tangga.
Sedangkan untuk triwulan pertama tahun ini, BI Bali memperkirakan pertumbuhan ekonomi akan tumbuh melambat dibandingkan triwulan IV 2018.
Melambatnya pertumbuhan triwulan pertama itu diperkirakan akibat tertahannya kinerja komponen utama terkait pariwisata yaitu ekspor luar negeri setelah triwulan sebelumnya tumbuh signifikan.
Hal itu terutama didorong pelaksanaan pertemuan tahunan IMF dan Bank Dunia Oktober 2018 yang dihadiri lebih dari 36 ribu peserta.
Sementara itu, sesuai dengan historisnya pada awal tahun realisasi investasi pemerintah menggunakan APBD untuk belanja modal masih dalam jumlah terbatas.
Sehingga itu turut menahan kinerja investasi khususnya yang dikelola oleh pemerintah.
Pada triwulam pertama tahun ini BI Bali juga memperkirakan lima lapangan usaha tumbuh melambat seperti penyediaan akomodasi makan dan minum, perdagangan besar dan eceran.
Selain itu transportasi dan pergudangan, industri pengolahan dan konstruksi.
Terkait dengan perkembangan inflasi pada triwulan pertama tahun ini diperkirakan akan melandai dibandingkan triwulan sebelumnya pada kisaran 2,3-2,7 persen.
Melandainya inflasi Bali itu, diperkirakan karena didorong masuknya periode panen khususnya komoditas pangan dan berakhirnya masa musim puncak liburan di Bali sehingga tingkat harga secara umum dinilai lebih terkendali. (*)
Pewarta: Dewa WigunaEditor : Adi Lazuardi
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.