Hal itu berkat didorong oleh naiknya harga pada komoditas kelompok padi sebesar 1,64 persen dan kelompok palawija 0,41 persen, kata Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali, Gede Suarsa di Denpasar, Jumat.
Ia mengatakan, petani mulai bergairah menangani pascapanen, khususnya gabah dengan menjemur, meskipun belum semua petani menerapkan hal itu secara maksimal.
Hal itu terbukti petani Bali masih menjual padi dalam bentuk gabah kering panen (GKP) kualitas rendah, yakni kadar air di atas 25 persen sebanyak 20,51 persen pada bulan Juli 2011, jauh lebih rendah dibanding bulan sebelumnya yang mencapai 32,73 persen.
Kondisi itu berkat petani melakukan proses penjemuran pascapanen karena didukung oleh sinar matahari yang terik dan cuaca yang cerah sehingga mampu menghasilkan gabah kualitas baik.
Suarsa mengatakan, meskipun seperlima petani tidak melakukan pengolahan pascapanen dengan baik, namun hasil pemantauan yang dilakukan ke delapan kabupaten dan satu kota di Bali itu tidak menemukan petani yang melakukan transaksi kualitas GKP di bawah harga pembelian pemerintah (HPP).
Harga gabah kualitas GKP pada bulan Juli 2011 sebesar Rp3.135,77 per kilogram di tingkat petani dan Rp3.185,77 per kilogram di tingkat penggilingan.
Gede Suarsa menjelaskan, demikian pula kelompok palawija mengalami peningkatan harga sebesar 0,41 persen, gabah kering panen mengalami peningkatan harga yang cukup signifikan dibanding bulan sebelumnya sebesar 7,99 persen pada tingkat petani.
Sementara pada kelompok palawija seperti jagung, kacang tanah dan kedelai juga mengalami peningkatan yang cukup menggembirakan. Kondisi tersebut sangat berpengaruh terhadap meningkatnya nilai tukar petani, kata Gede Suarsa.(*)
Editor : Nyoman Budhiana
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.