"Kami sekarang memerlukan pasar supaya bisa menjual hasil kerajinan masyarakat Desa Celuk, pusat kerajinan perak Bali," kata Pengusaha Kerajinan Perak asal Desa Celuk, Wayan Wijaya di bengkel kerjanya, Minggu.
Ia yang mempekerjakan sekitar 30 perajin dari berbagai keahlian di bidang perhiasan perak itu memproduksi mata dagangan bernilai seni dengan rancang bangun sesuai perkembangan zaman yang berisi muatan lokal.
Berbagai jenis cindermata menyerupai binatang berbahan baku kerang yang dikombinasikan dengan hiasan perak berukir khas Bali, memiliki ciri khas sehingga banyak dipesan konsumen luar negeri terutama yang datang dari Amerika Serikat, Eropa dan Australia.
Perajin perak sudah mampu memproduksi dalam jumlah banyak dalam waktu singkat sesuai permintaan konsumen, namun produksi yang banyak itu sekarang memerlukan pasar yang lebih luas, tutur pria yang tekun bisnisnya itu.
Pasar perhiasan perak di Australia kini semakin berkembang, tutur Wayan Wijaya sambil menunjukkan berbagai jenis kerajinan berbahan baku kerang yang dipadukan dengan perak, mampu menguasai pasar luar negeri saat ini.
Keberadaan bahan baku berupa perak tidak menjadi masalah bagi perajin Bali, karena berapa pun pesanan yang ada pasti dapat dipenuhi dengan tepat waktu dan jumlah yang tepat, karena memproduksinya menggunakan mesin berteknologi tepat guna.
Harga perak yang dapat dipantau secara internasional sehingga tidak terlalu masalah karena produsen dengan konsumen sama-sama mengetahui atas perkembangan pasar, sehingga tidak terlalu banyak bisa meraih keuntungan.
"Pengusaha kerajinan perhiasan perak maupun perhiasan emas di Bali tidak bisa mengambil keuntungan dalam jumlah banyak, paling hanya bisa menjual desain ditambah ongkos kerjanya saja kepada konsumen," kata Wijaya.
Perdagangan ekspor akan aneka barang perhiasan dan permata produksi Bali memang cukup stabil, sehingga setiap bulannya ada saja yang dikirim ke pasar luar negeri bahkan nilai ekspor dari Bali bertambah besar.
Bank Indonesia Denpasar mencatat nilai ekspor perhiasan dan permata Bali selama April 2011 seharga 8 juta dolar AS atau naik 20 persen jika dibandingkan periode bulan sebelumnya hanya 6,7 juta dolar.
Realisasi ekspor perhiasan dan permata merupakan penghasil devisa terbanyak kedua setelah ikan dan udang yang bernilai 11,5 juta dolar selama April 2011, naik dari bulan sebelumnya yang hanya 10,4 juta dolar.(*)
: Masuki
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.