Denpasar (Antara Bali) - Sosok tubuh seorang perempuan itu semakin kurus. Pandangan matanya tampak menerawang jauh sejak dirinya dinyatakan positif terinveksi virus HIV.
Sebut saja Ani (25), nama si wanita pengidap virus yang belum ada obatnya itu. Dia tercatat sebagai warga asal luar Bali yang sudah cukup lama bermukim dan bekerja di sebuah tempat hiburan malam.
Ani merupakan salah seorang dari ribuan pria dan wanita yang kini mengalami nasib yang sama di Pulau Dewata.
Dalam hitungan jumlah penderita, beberapa pengamat menilai bahwa epidemi HIV dan AIDS fenomenanya bagaikan gunung es. Artinya, data yang berhasil dihimpun instansi terkait yang menangani masalah itu hanyalah bagian kecil dari kenyataan yang ada di lapangan.
Sri Mulyanti, asisten koordinator Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kota Denpasar, mengakui bahwa penderita HIV dan AIDS bagiakan fenomena gunung es.
Penderita penyakit HIV/AIDS di Bali yang hampir separuhnya tercatat bermukim di Kota Denpasar, kondisinya kini semakin mengkhawatirkan. Jumlah penderita mengalami peningkatan yang sangat signifikan, sementara obatnya hingga kini belum berhasil ditemukan.
Oleh sebab itu, berbagai upaya telah dilakukan KPA untuk menekan penyebaran virus yang mematikan tersebut, namun sayangnya tidak bisa berbuat banyak akibat keterbatasan dana yang dimiliki.
Dana yang dimiliki KPA maupun instansi pemerintahan dan swasta yang bergerak di bidang itu, dilaporkan cukup minim jika dibandingkan dengan berbagai usaha yang mereka lakukan untuk menekan HIV dan AIDS.
"Dalam setahun anggaran yang dimiliki itu hanya cukup untuk melakukan kegiatan sosialisasi di beberapa tempat saja, itupun terasa dipaksakan demi memenuhi target," ujar Sri Mulyanti.
Khusus untuk Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kota Denpasar, terhitung hanya memiliki dana sebesar Rp300 juta dalam setahun. Dana sebesar itu tidak hanya untuk kegiatan sosialisasi saja, melainkan juga berbagai program lainnya.
Menurut Sri, anggaran itu sifatnya tidak berubah dari tahun ke tahun, meskipun beberapa kali mengajukan untuk mendapatkan tambahan dana dari APBD setempat.
Akan tetapi pada kenyataannya, usaha itu tidak ada gunanya, padahal Kota Denpasar menempati posisi teratas dari jumlah kasus penderita HIV dan AIDS yang terjadi di Pulau Dewata selama 2010, dan kemungkinan terus meningkat pada 2011.
Jumlah kasus yang ada di Denpasar mencapai 48 persen dari total kasus HIV dan AIDS yang muncul di Bali selama tahun lalu.
Dengan tingginya angka penderita HIV dan AIDS di ibu kota Provinsi Bali itu, membuat KPA Kota Denpasar mengeluhkan kurangnya dana sosialisasi tentang bahaya HIV/AIDS hingga tidak mampu menjangkau sasaran yang lebih luas.
Sri Mulyanti mengatakan, dana sosialisasi untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat terhadap HIV dan AIDS memang minim, namun hal itu tidak menyurutkan niatnya guna memberikan wawasan kepada seluruh kalangan.
"Meski dana yang diperoleh seadanya namun tidak menyurutkan niat kami untuk melakukan kegiatan guna memberikan pencerahan kepada masyarakat soal AIDS," katanya.
Dia mengatakan, sosialisasi tentang penyakit itu cukup penting untuk menambah wawasan seluruh lapisan masyarakat, terutama kalangan yang beresiko.
Berdasarkan data, ujarnya, kalangan yang cukup rentan terserang virus HIV adalah kelompok usia produktif, yakni 16 tahun ke atas.
Oleh karena itu, sosialisasi dipusatkan untuk menyasar kalangan tersebut, mulai dari generasi muda melalui sekolah-sekolah sampai masyarakat umum lewat banjar-banjar atau dusun.
"Namun karena dana yang kami peroleh sangat terbatas, tentu tidak bisa optimal menyasar semua tempat," ujarnya menjelaskan.
Dana sosialisasi tersebut berjumlah 25 persen atau Rp75 juta dari anggaran yang diperoleh Rp300 juta dalam kurun waktu satu tahun itu. Jumlah tersebut tidaklah mencukupi untuk berbagai kegiatan upaya pencegahan dan penanggulangan AIDS di masyarakat.
Menurut Sri, idealnya dana untuk menjalankan program yang dicanangkan pihaknya tersebut minimal Rp500 juta dan maksimal Rp1 miliar.
Hal itu berdasarkan kondisi kasus di ibu kota Provinsi Bali yang tertinggi dibandingkan dengan wilayah lain di Pulau Dewata.
"Dana yang diperoleh dari APBD Denpasar tidak ada perubahan dari tahun ke tahun, padahal sudah beberapa kali mengajukan untuk ditambah menjadi Rp700 juta. Kendati demikian, hal ini tidak sampai mengganggu program yang kami targetkan," ujarnya.
KPA tidak bekerja sendiri, tambah dia, sebab masih banyak pihak lain yang memiliki kepedulian yang tinggi terhadap masalah penanggulangan virus mematikan tersebut.
Selain itu, lanjut Sri, pihaknya tetap melakukan berbagai program yang sudah dicanangkan untuk tahun ini. Terakhir adalah pembangunan tiga klinik VCT di tiga kecamatan yang belum mempunyai itu.
"Dana yang dikucurkan untuk itu sebesar Rp75 juta. Namun dana sebesar itu tidak hanya untuk pembuatan VCT tetapi ada juga kegiatan lain, yakni bimbingan konsuler," ucapnya.
Sri menjelaskan, pihaknya tidak saja mengandalkan anggaran dari APBD untuk menjalankan kegiatan, tetapi ada juga sokongan dari pihak swasta lainnya.
Akan tetapi bentuk bantuan itu berupa kegiatan yang sudah ditentukan oleh mereka. Bantuan tersebut berupa kegiatan advokasi dan sosialisasi HIV dan AIDS di masyarakat. Ada juga bantuan dari pihak swasta berupa dana untuk kegiatan yang sudah dibuatkan advokasi dan sosialisasi.
Sri enggan memberikan jawaban ketika ditanya mengenai mengapa dana untuk masalah HIV dan AIDS selalu minim. "Saya tidak tahu secara pasti apa sebab, mungkin kemampuan yang dimiliki hanya sebesar itu dari pemerintah daerah," katanya.
Dia berharap ke depannya anggaran untuk program penanggulangan dan pencegahan HIV dan AIDS yang diterimanya terus meningkat.
Dengan dana yang memadai, tentu akan lebih banyak target dan tempat pelaksanaan sosialisasi bisa dilakukan hingga penyebaran virus itu menjadi semakin berkurang, atau paling tidak menjadi lebih lambat.
Sementara Kepala Dinas Kesehatan Kota Denpasar dr Luh Putu Sri Armini mengakui jika anggaran yang dialokasikan dari APBD untuk kegiatan penanggulangan dan pencegahan HIV dan AIDS masih minim.
"Jumlah anggaran yang diterima oleh dinkes yang disalurkan kepada KPA memang tidak ada peningkatan, hampir sama setiap tahun sebesar Rp300 juta. Meski tahun lalu pernah mencapai Rp400 juta, akan tetapi tahun ini kembali turun menjadi Rp300 juta," katanya.
Dia mengatakan, dana sebesar itu memang masih belum mencukupi, akan tetapi banyak pihak yang turut membantu berbagai kegiatan penanggulangan virus tersebut.
"Jadi kami tidak sendiri bekerja, karena masih banyak lapisan masyarakat lainnya yang memiliki kepedulian kepada masalah HIV dan AIDS," ucapnya.
Penggalangan dana AIDS
Meski dana untuk pencegahan HIV dan AIDS di Pulau Dewata masih minim, tetapi tidak membuat berbagai kalangan yang peduli masalah itu patah arang.
Seperti yang dilakukan oleh Ayu Handayani, artis lokal Bali, yang berkolaborasi dengan Diana Nasution, penyanyi senior Tanah Air, melakukan penggalangan dana bagi penderita HIV dan AIDS.
Walapun jumlah yang terkumpul tidaklah terlalu besar, namun diharapkan dapat merangsang tumbuhnya tindakan serupa oleh kalangan masyarakat lainnya.
"Awalnya kami cukup pesimis bahwa tiket yang harganya Rp125 ribu bisa terjual sebanyak itu. Namun berkat kerja keras semua pihak, akhirnya dapat tercapai," kata Ayu Handayani.
Dia menjelaskan, rasa pesimistis itu sempat muncul karena cukup sulit untuk menjual tiket acara konser untuk amal tersebut.
Menurut dia, banyak yang lebih tertarik menghadiri acara seminar yang menjanjikan kesuksesan, dibandingkan datang menonton konser yang bertajuk "Charity Show For HIV/AIDS".
"Hasil konser dan pelelangan lagu dalam konser akan kami berikan sepenuhnya kepada anak-anak yang menjadi korban keganasan penyakit mematikan itu," ujarnya.
Ayu mengatakan, sejumlah anak penderita kini berada dalam naungan Yayasan Citra Usadha Indonesia yang berlokasi di Kabupaten Buleleng, Bali.
Jumlahnya ada sekitar 60 orang, yang sebagian besar yatim piatu karena orang tuanya meninggal dunia akibat mengidap HIV/AIDS. Dari jumlah tersebut, sekitar sembilan anak dinyatakan positif virus HIV, bahkan empat di antaranya meninggal dunia.
Sementara Koordinator Program Yayasan Citra Usadha Indonesia Anang Edi mengatakan, dana yang dihasilkan dari konser itu akan digunakan untuk biaya pendidikan dan kebutuhan sehari-hari anak-anak di yayasan tersebut.
"Selain itu digunakan juga untuk biaya mengakses layanan kesehatan, karena sebagian besar anak yang Odha itu berada di daerah pedesaan," katanya.
Menurut dia, hal yang dilakukan oleh Ayu dan rekan-rekannya itu sangat mulia dan diharapkan bisa memicu munculnya kegiatan serupa, yakni peduli terhadap HIV dan AIDS.(*)
: Masuki
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.