Karangasem, 9/5 (ANTARA) - Ribuan durian diturunkan dari bukit di sejumlah desa di Kecamatan Rendang, Kabupaten Karangasem, Bali, bertepatan dengan masa panen tahunan yang biasa berlangsung Mei hingga Juni.

Durian dari bagian kaki selatan Gunung Agung (3.243 meter) itu, Senin petang, tampak dijual berderet pada sejumlah titik di jalan raya menghubungkan Pura Besakih dengan Kota Semarapura, Kabupaten Klungkung.

"Musim panen durian yang terjadi setiap tahun, merupakan berkah tersendiri bagi pekebun. Untuk tahun ini, musim panen termasuk sukses, karena bunga yang muncul hampir 100% menjadi buah," ujar I Gede Oka, pekebun durian dari Desa Nongan, Kecamatan Rendang.

Pria yang sehari-hari juga bertugas sebagai guru sekolah dasar itu, menuturkan bahwa dirinya mengawali bertanam durian lokal sejak 15 tahun lalu untuk mengisi kebunnya agar lebih produktif. Tak disangka, tujuh tahun kemudian, pohon durian mulai berbunga lebat, namun tidak semuanya menjadi buah. Baru pada periode ketiga, hasil panen dapat maksimal karena sebatang pohon durian bisa menghasilkan antara 50 - 60 buah. 

"Berdasarkan pengalaman saya, pada usia tujuh tahun, pohon durian baru berbuah. Ini untuk bibit dari stek dahan. Kalau bibit dari biji, malah bisa berbuah di atas umur 10 tahun. Makanya, kebanyakan pekebun lebih memilih bibit stek batang, selain karena lebih cepat berbuah, juga sifat dasarnya sama dengan induknya. Beda dengan bibit dari biji, bisa-bisa sifatnya melenceng jauh dari induk," ujar pria berusia 45 tahun itu.

Perawatan pohon durian, urai Gede Oka, tidak rumit. Pada masa awal tanam, jangan biarkan ada rumput agar tidak merebut unsur hara yang diserap akar pohon durian. Selain itu, setahun sekali, sebaiknya pohon diberi pupuk daun agar pertumbuhan tanaman subur. Saat menginjak umur tujuh tahun, pohon durian diberi pupuk buah agar mempercepat masa produksi buah.

Hanya yang patut diwaspadai, pohon durian harus diperhatikan agar terhindar dari hama atau penyakit. Biasanya, jika pekebun lalai, maka "subatah" atau sejenis ulat akan menyelusup masuk dan menggerogoti pohon durian. Akibatnya, pertumbuhan pohon menjadi tidak normal. Tak hanya "subatah", pohon durian kadang-kadang juga mendapat serangan gugur daun.

Untuk menjual hasil panen, Gede Oka tidak mengalami kesulitan untuk memasarkan buah durian. Setiap hari, ada seorang pengepul langganan yang datang ke rumahnya dan mengambil hasil panen. Pengepul inilah yang menjajakan durian di warung-warung atau pertokoan pinggir jalan raya. Mengingat kini tengah masa panen, tidak heran bila di kawasan Rendang, di sepanjang jalan menuju Pura Besakih, jumlah penjual durian melonjak.

"Kalau mau durian, sekarang tinggal cari di pinggir jalan. Ribuan durian bisa ditemukan dengan gampang. Harganya tentu saja bervariasi, tergantung besar dan kecilnya. Kalau dari pekebun, harganya berkisar antara Rp10 ribu - Rp40 ribu per buah. Kalau di pedagang, harganya naik sekitar 10 - 20 % dari harga semula," tutur Gede Oka.

Sementara Ni Made Astiti, seorang pedagang durian membenarkan kalau buah durian sekarang sedang "booming". Menurutnya, setiap hari ia selalu memungut durian "ulungan" atau jatuh dari kebunnya dan dijual di warungnya.

"Durian itu lebih enak kalau 'ulungan' karena lebih manis. Jika belum matang sudah panen, maka rasanya hambar. Makanya, saya biarkan durian saya jatuh-jatuh sendiri, baru dipungut untuk dijual," kata Made.

Penggemar durian, ternyata bukan hanya masyarakat lokal saja. Hampir setiap hari wisatawan yang habis bertandang dari Pura Besakih, selalu menyempatkan mampir dan membeli durian di sepanjang kawasan Rendang. Baik wisatawan lokal dari Jawa, maupun wisatawan asing yang datang dari berbagai negara.(*)


Editor : Nyoman Budhiana

COPYRIGHT © ANTARA 2026