"Saat ini belum bisa dikatakan KLB karena bila di bidang pertanian itu sudah merugikan produksi, maka ulat bulu itu bisa dikatakan KLB. Tapi karena sejauh ini kita sudah tangani dengan cara menyemprotkan pestisida, maka hanya disebut ancaman," jelasnya usai pertemuan dengan para peneliti taman di kantor Balai Proteksi Tanaman Pangan Denpasar, Rabu.
Suryawan menganalisis bahwa salah satu penyebab munculnya ulat bulu dengan jumlah populasi yang banyak yakni karena rusaknya ekosistem seperti pada semut rangrang, serta musim hujan yang berkepanjangan.
"Semut rangrang itu sangat efektif memangsa ulat bulu sebagai makanannya. Satu ulat bulu bisa habis dimakan tiga ekor semut merah atau rangrang. Sementara telur semut merah atau telur rangrang habis diambil untuk makan burung peliharaan, sehingga tidak ada pemangsa ulat bulu," jelasnya.
Suryawan menyebutkan, status KLB memiliki tahapan yakni tahap tingkat terancam, dan tingkat serangan. Dalam tingkat serangan pun masih terbagi menjadi tiga, yaitu serangan ringan, serangan sedang, dan serangan berat.
"Nah pada serangan berat itulah yang bisa dikatakan KLB," katanya.
Ulat bulu yang menyerang di sejumlah kabupaten Bali seperti Buleleng, Jembrana, Gianyar, Karangasem, Klungkung, Nusa Penida dan Denpasar tersebut merupakan ulat bulu yang bersifat polipag (pemakan segala jenis daun).
"Ulat bulu tersebut merupakan polipag penyuka semua daun. Pertama ulat-ulat tersebut memakan daun yang paling enak, setelah satu pohon habis dia akan beranjak mencari daun yang lain," ujarnya.
Suryawan mengatakan, populasi ulat bulu yang sampai ke Nusa Penida tersebut merupakan akibat migrasi.
"Migrasi ulat bulu itu berlangsung pada malam hari, sedangkan pada siang hari ulat bulu tidur bersama kelompoknya," ujarnya.
Dari hasil pengamatan sejumlah ahli dan peneliti taman BPTP Bali, ulat bulu yang ditemukan tersebut terdapat tiga bentuk ulat bulu, yakni ulat bulu berwarna coklat, hitam, dan coklat muda.
"Tapi kami belum mengetahui jenis ulat-ulat tersebut. Sejauh ini kami masih mengamati saja," ujarnya.
Kini, BPTP dan beberapa peneliti dari Universitas Udayana masih akan melakukan penelitian terhadap ulat bulu yang dianggap meresahkan masyarakat.
Sebelumnya, ulat bulu dengan jumlah populasi banyak pertama kali ditemukan di Kabupaten Buleleng yang menyerang daun sandat, dan benalu, kemudian di Denpasar dan Gianyar menyerang pohon mangga, pisang, jepun, dan jempiring. Di karangasem ulat bulu menyerang pohon kelapa, dan di Jembrana menyerang pohon kenanga.
Sementara di tiga kabupaten lainnya seperti Bangli, Tabanan dan Badung tidak ditemukan populasi ulat bulu.(*)
: Masuki
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.