Para siswa mengambil satu persatu ulat yang menempel di dinding dan masuk ke dalam gedung sekolah.
"Kalau sampai menganggu pasti dimatiin oleh para siswa. Karena saat ini tak begitu parah, maka ulat itu masih dibiarkan berada di salah satu pohon yang terletak di lapangan sekolah," kata kepala kampung atau Kelian Dinas Banjar Belong, Desa Taro, I Wayan Reta.
Ia menjelaskan, kemunculan ulat bulu berwarna cokelat kekuning-kuningan itu baru diketahui Selasa pagi oleh para siswa, guru dan warga.
"Kami baru mendapatkan laporan, kami belum melakukan tindakan apa-apa," ujarnya.
Saat ini, kata dia, proses belajar mengajar masih tetap berjalan karena ulat itu tidak semua masuk ke ruangan sekolah.
"Kalau toh ada satu atau dua yang masuk ke ruangan masih bisa diatasi," katanya.
Meskipun demikian, kata Reta, pihaknya berharap kepada aparat pemerintah untuk turun tangan melakukan penyemprotan, sehingga ulat itu tak sampai menyebar masuk ke rumah penduduk.
Selain masuk sekolah, ulat berbulu juga masuk ke Perumahan BTN Griya Swakarsa, Desa Pering, Kecamatan Blahbatuh, Kabupaten Gianyar.
"Ulat berbulu itu berada di pohon dap-dap dekat Pura Padmasana Perumahan," kata I Wayan Arta Numadi, salah seorang penghuni perumahan itu.
Untuk mengantisipasi agar tidak menyebar, kata Arta Numadi, pihaknya bersama warga lainnya sudah melakukan penebangan pohon tersebut.
"Ulatnya kami matikan bersama -sama," katanya. ***1***
: Masuki
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.