Singaraja (Antara Bali) - Gubernur Bali Made Mangku Pastika menegaskan rencana pembangunan bandara internasional di Buleleng beserta sarana penunjangnya yaitu jalan tol, untuk menyeimbangkan pembangunan di wilayah utara tersebut.

"Jika pembangunan tidak merata akan terjadi kesenjangan yang bisa menimbulkan kecemburuan, dan berpotensi menyebabkan keresahan sosial," katanya di Singaraja, Sabtu.

Hal itu disampaikan Gubernur Pastika di hadapan sejumlah anggota DPRD dan pimpinan SKPD Provinsi Bali serta Kabupaten Buleleng, dalam "simakrama" atau temu wicara dengan tokoh masyarakat, pemuka agama, para kepala desa serta "kelian" desa adat setempat.

Menurut Mangku Pastika, rencana pembangunan bandara internasional dan jalan tol dari Kuta, Kabupaten Badung-Soka, Kabupaten Tabanan, hingga tembus Seririt, Buleleng, perancangannya sudah rampung dan tinggal dilaksanakan.

"Tanpa mega proyek seperti bandara dan sarana jalan yang memadai, Buleleng tidak akan maju, baik dari sisi ekonomi maupun kehidupan masyarakatnya," kata Mangku Pastika yang berasal dari Buleleng.

Oleh karena itu, Pemprov Bali telah menyepakati untuk mengarahkan pembangunan sektor pariwisata ke Buleleng dan wilayah timur, sekitar Kabupaten Karangasem yang juga belum seimbang dibandingkan kawasan selatan sekitar Denpasar.

Pada kegiatan tersebut, Mangku Pastika juga didampingi Wakil Gubernur AA Ngurah Puspayoga, Wakil Bupati Buleleng Made Arga Pynatih dan pimpinan Komisi DPRD Bali, seperti Agus Suradnyana, Kariasa Adnyana dan Tutik.

Agus Suradnyana yang juga asal Buleleng juga menyampaikan, bahwa dari tujuh prioritas pembangunan di Bali, salah satunya adalah rencana pembangunan bandara internasional di Buleleng yang sudah dikoordinasikan dengan Bappenas.

Terkait dengan menjamurnya kafe di sejumlah tempat, Gubernur Made mangku Pastika meminta Pemkab Buleleng untuk menghentikan operasionalnya.

"Berangus kafe remang-remang itu. Jangan ada aparat desa yang membekingi tempat usaha yang tidak berizin dan bisa mengganggu ketenangan masyarakat tersebut," ujar pejabat yang juga pernah menjadi Kapolda Bali itu.

Keberadaan kafe remang-remang, katanya, banyak yang berdampak negatif, terutama bagi kaum lelaki, selain mendukung penyebaran narkoba dan HIV/AIDS. "Karena itu harus secepatnya dicegah. Begitu pula kasus-kasus kriminal, sering datang dari keberadaan kafe," katanya.

Dari data yang ada, separuh PSK di Bali terjangkit penyakit yang mematikan seperti HIV/AIDS, sehingga perlu waspada dan menahan diri untuk tidak masuk ke kafe, ujar Mangku Pastika sambil tersenyum.

Kendati ada yang merasa tidak puas atas jawaban gubernur terhadap sejumlah pertanyaan, masukan yang dilontarkan sejumlah tokoh, namun kegiatan tersebut berjalan lancar.(*)


: Nyoman Budhiana

COPYRIGHT © ANTARA 2026