Denpasar (Antara Bali)- Dalam rangka nyanggra puncak karya pujawali Betara Sakti turun kabeh di Pura Kehen, minggu (22/11) kemarin Penjabat Bupati di damping SKPD dan instasi vertical lainya di Kabupaten Bangli ngaturang Bakti dalam karya malik Sumpah dan Mendem Pedagingan di Pura kehen Kelurahan Cempaga Bangli.

Acara yang di pusatkan di Jaba tengah Pura Kehen di puput oleh tiga sulinggih tri sadaka, yaitu Pedanda Siwa, Resi dan Buda.

Manggala Karya Jro Mangku Gede Dalem Purwa menyampaikan dalam rangka nyanggra karya ngusaba yang dilaksanakan tiga tahun sekali diawali dengan rentetan ngaturang piuning, pecaruan manca sato, negtegang ngawit nyatur, ngunggahang sunari, ngadengang Bagia pulakerti dan hari ini tepatnya Minggu Redite Kliwon tanggal 22/11 dilaksanakan upacara malik sumpah dan mendem pedagingan dan pemlaspasan bangunan baru yang ada di sekitar Pura Kehen baik berupa Bangunan tempat linggih Ida Batara Perampean dan bangunan lain seperti bale pesanekan dan Tembok pembatas.

“Makna dari upacara malik sumpah ini adalah tidak beda dengan tawur agung yang lainya dimana intinya adalah untuk pembersihan baik secara skala dan niskala dengan pengambilannya tingkatan karya madya utama” jelasnya.

Lanjut dikatakan juga Pura Kehen di empon oleh 22 banjar ditambah pengempon pendukung atau krama subak pekaseh yang berada di kecamatan Bangli, susut dan tembuku.

Ditanya mengenai istilah Gebog Domas, Jro M Gede Dalem Purwa menyampaikan istilah tersebut adalah salah satu warisan dari para pendahulu,  dimana Gebog adalah pengempon dan Domas adalah banyaknya jumlah sebanyak 800 orang.

Jadi menurut para pendahulu Pure Kehen ini awalnya di empon oleh sebanyak 800 orang di wilayah Bangli, Susut dan tembuku. “untuk tetap menjaga dan mengingat sejarahnya istilah Gebog domas masih terus dipakai sampai sekarang meskipun jumlah pengempon sudah bertambah banyak sesuai perkembangan zaman” tambahnya.

Lanjut dalam pengambilan karya Malik Sumpah yang terselenggara hari ini  menggunakan wewalungan berupa Kambing, Angsa, Itik Bulu Gula Itik Cemaning, Blang Kalung, berikutnya ayam Brumbun putih dan lainnya.

Sementara Penjabat Bupati Bangli I Dewa Gede Mahendra Putra, SH.,MH menyampaikan tujuan dari terlaksanaya karya ini adalah menjadi satu spirit spiritual dalam mewujudkan Trihita Karana yaitu menjaga hubungan antara manusia dengan sesama, menjaga hubungan dengan alam dan yang terpenting adalah bagaimana menjaga hubungan dengan Tuhan yang telah menciptakan alam semesta beserta isinya.

Sebagaimana kita rasakan kebesaran dari Tuhan sebagai pencipta inilah kita harus mensyukuri karunia beliau dan menghormati dalam bentuk upakara-upakara yang kita sebut dengan yadnya. “yang terpentig dalam upacara ini bukan hanya dari segi bagaiman seremonial dari upacara ini namun yang lebih penting adalah bagaimana makna yang terkandung didalam upacara ini harus dapat kita jaga dan melekat dalam pikiran kita sebagai umat beragama dan masyarakat di Bangli, khususnya pengempon pura Kehen ini” harap Dewa Mahendra Putra.

Pewarta:

Editor : I Gusti Bagus Widyantara


COPYRIGHT © ANTARA News Bali 2015