Bandung (Antara Bali) - Dengan bahan-bahan seperti keranjang yang berlubang-lubang misalnya, kardus bekas, sekam, dan tongkat pengaduk kita bisa mengompos sampah dapur menjadi pupuk. 

Hal pertama yang dapat kita lakukan adalah memilah sampah dapur nabati dan hewan. Kemudian, pilihlah sampah nabati untuk dikompos, misalnya sisa sayuran, buah, dan sebagainya. Sampah hewani akan mendatangkan belatung dan mengundang hewan anjing dan kucing untuk mengaisnya. 

Sampah dapur yang telah terpilah lalu dipotong-potong kecil agar lebih mudah hancur. Jika terdapat sisa sayur yang mengandung santan, bilaslah dulu dan tiriskan. 

Setelah itu, siapkan keranjang cucian berlubang-lubang berukuran 200 liter. Lubang berguna agar udara segara bisa masuk. Keranjang ini berfungsi sebagai wadah pengomposan.  Kemudian, lapisi bagian dalam keranjang dengan kardus bekas agar kelembaban udara terjaga, membantu menyerap kelebihan air  dan agar adonan kompos tidak keluar dari lubang keranjang. 

Setelah itu, masukkan gabah, pupuk kompos hingga memenuhi sepertiga wadah. Lalu, masukkan sampah dapur yang sebelumnya telah disiapkan. Jika sampah terlalu basah bisa ditambah serbuk kayu atau sekam.  Jangan lupa aduk-aduk adonan menggunakan tongkat. 

Jika semua bahan sudah dimasukkan, lalu masukkan sekam dan tutup keranjang. Biasanya proses pembusukan terjadi dalam tiga hari. Pengomposan berjalan apabila adonan menjadi panas bila diraba atau keluar uap air jika diaduk. Biasanya proses ini membutuhkan waktu sekitar empat hingga enam minggu.  (WDY)

Pewarta: Oleh Lia Wanadriani Santosa

Editor : I Gusti Bagus Widyantara


COPYRIGHT © ANTARA News Bali 2015