Denpasar (Antara Bali) - Pengamat masalah Pertanian Dr Ir Gede Sedana, M.Sc. MMA menilai, organisasi pengairan tradisional bidang pertanian (subak) di Bali yang diwarisi secara turun temurun sekaligus sebagai salah satu aset budaya, hingga kini belum beruntung dalam meningkatkan kesejahteraan petani.

"Kondisi itu tercermin dari anggapan dan pandangan bahwa sektor pertanian di lahan sawah kurang memberikan harapan yang lebih baik atau belum menjanjikan," kata Gede Sedana yang juga Dekan Fakultas Pertanian Universitas Dwijendra Denpasar, Minggu.

Ia mengatakan, ungkapan itu mudah diamati dalam kehidupan sehari-hari, karena hingga sekarang belum ada orang tua, maupun petani yang mencita-citakan anaknya kelak menjadi petani.

Padahal, kehadiran petani (subak) yang mengelola usahataninya mampu membantu masyarakat non-petani menikmati hasil-hasil pertanian, sekaligus menjaga fungsi ekosistem dari aspek hidrologis dan ekologis, termasuk estetika yang sangat dibutuhkan oleh seluruh komponen masyarakat.

Pria kelahiran Singaraja, Bali utara itu menambahkan, pesatnya pembangunan di luar sektor pertanian sebagai dampak arus modernisasi dan globalisasi sering menyudutkan petani ke tempat yang terpinggirkan.

Dukungan yang kuat dari Dinas Pertanian dan Dinas Pekerjaan Umum melalui pembangunan sektor pengairan belumlah cukup jika tidak dibarengi secara nyata oleh sektor-sektor lainnya.

Dinas Pertanian melalui Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) telah bekerja keras mengintroduksi dan mengembangkan teknologi pertanian untuk meningkatkan produktivitas hasil pertanian.

Namun ketika petani panen produk-produk yang dihasilkan meningkat (gabah), petani dihadapi dengan tingkat harga gabah yang belum menjamin hidup layak.

"Ironisnya petani subak yang melakukan proses produksi gabah mengalami kesulitan untuk membeli beras atau nasi, karena harganya relatif tinggi," ujar Gede Sedana.

Ia menambahkan, petani juga menghadapi masalah lain yakni keberadaan lahan pertanian subak yang semakin terdesak akibat pesatnya alih fungsi lahan pertanian, sejalan dengan kuatnya rongrongan pembangunan di sektor non-pertanian.

Semakin terbatasnya kuantitas sumber air irigasi yang diperparah lagi dengan musim kemarau yang berkepanjangan serta semakin rusaknya kualitas air irigasi menjadi salah satu masalah utama yang mengganggu pertumbuhan tanaman.

Bahkan petani juga dihantui oleh ancaman petaka yang menghancurkan tanamannya, yaitu adanya serangan hama dan penyakit atau banjir. Sia-sialah berbagai upaya dan modal usahatani yang telah dinvestasikannya akibat gagal panen. Pengalaman di beberapa daerah seperti di Kabupaten Klungkung telah menunjukkan bahwa terjadi gagal panen akibat kekeringan. Di sisi lain, petani selalu mendapatkan ancaman kebanjiran pada saat musim hujan.

Oleh karena itu, memang benar-benar sulit menjadi petani di sawah yang penuh dengan resiko yang setiap saat siap mengancam kehidupannya. Meskipun demikian patut dihargai dan diacungkan jempol kegigihan petani (subak) yang dengan kondisi sulit masih tetap bertahan untuk keluarganya maupun secara tidak langsung untuk kehidupan bersama, ujar Gede Sedana. (WDY)

Pewarta: Oleh I Ketut Sutika

Editor : I Gusti Bagus Widyantara


COPYRIGHT © ANTARA News Bali 2014