Denpasar (Antara Bali) - Calon anggota DPRD Provinsi Bali dari Partai Amanat Nasional (PAN) Ni Luh Putu Suparmi berjanji akan memperjuangkan sekolah-sekolah yang selama ini kekurangan guru untuk segera diisi guna memperlancar proses belajar mengajar.

"Jika saya di percaya mewakil rakyat menjadi anggota DPRD Bali, maka program pendidikan dan pemenuhan guru sekolah menjadi prioritas programnya," katanya di Denpasar, Sabtu.

Menurut mantan kepala SMP Negeri Sanur itu, pendidikan tidak boleh diabaikan begitu saja. Karena jika bidang pendidikan terabaikan maka generasi mendatang akan tidak mampu bersaing di dunia.

"Era globalisasi memerlukan generasi yang cerdas dan pintar. Karena itu pendidikan menjadi prioritas paling utama," ujar caleg daerah pemilihan Kota Denpasar ini.

Ia mengatakan dana pembangunan, khususnya di bidang pendidikan di Bali masih kurang dari 20 persen APBD. Jika Pemerintah Bali serius menganggarkan dari APBD Bali dalam setiap tahun mencapai Rp3 triliun lebih, sudah bisa mendanai semua sekolah di pelosok Pulau Dewata.

"Ini perlu keseriusan pemprov dengan anggota dewan menganggarkan dana pendidikan agar sumber daya manusia Bali bisa bersaing dalam dunia pendidikan dengan daerah lain, bahkan negara lain," kata mantan anggota DPRD Bali itu.

Ia mengamati masih banyak sekolah kekurangan guru. Tetapi pengangkatan guru sekarang khan diserahkan kepada daerah. Nah ini persoalannya sebab tidak semua daerah siap mengangkat guru. Akibatnya yang jadi korban adalah para siswa yang diajar oleh guru bukan bidang studinya," ucap politikus asal Kesiman, Kota Denpasar.

Caleg perempuan dari Partai Gerindra Kadek Weisya Kusmiadewi untuk DPRD Kabupaten Karangasem mengaku akan memperjuangkan nasib perempuan dalam kehidupannya menengah ke bawah.

"Saya peduli dengan kaum perempuan. Saya ingin memperjuangkan kaum perempuan dalam perekonomian yang lebih mapan," katanya.

Ia mengatakan waktu kampanye pemilu di Pasar Umum Karangasem, banyak mendapatkan masukan dari para pedagang tersebut. Mereka berkeluh-kesah terkait lokasi pasar setelah direnovasi jadi pendapatnya berkurang.

"Mereka menyampaikan keluhan hasil jualannya tidak sebanyak dulu. Sebab pedagang sebagian ada jualan di depan pasar. Dengan demikian konsumen enggan masuk pasar lagi," ujarnya.

Pedagang pasar tersebut, kata dia, meminta pengelola pasar agar kembali menertibkan para pedagang yang menggelar dagangannya di depan pasar tersebut. Mereka berharap agar semua pedagang masuk ke dalam pasar, sehingga penjualan bagi pedagang akan bisa merata.

Ia mengatakan pihaknya segala keluhan dari kaum perempuan tersebut pihaknya mencoba melakukan evaluasi dan analisa, sehingga nantinya bisa diperjuangkan lewat lembaga legislatif.

Sementara itu, calon anggota DPR dari Partai Demokrat, Tutik Kusuma Wardani melakukan kampanye Pemilu 2014 dengan cara sosialisasi dan pendekatan kepada warga, khususnya kaum perempuan pengusaha kerajinan bokor di Desa Menyali, Kabupaten Buleleng.

"Saya peduli dengan kerja keras para kaum perempuan yang bergerak di usaha kerajinan bokor (alat pembawa sarana sesaji upacara ke pura) di Desa Meyali, Kecamatan Sawan. Karena industri kecil ini perlu mendapat perhatian agar bisa berkembang," kata caleg dari Partai Demokrat itu.

Ia mengatakan usaha kecil tersebut saat ini belum mendapatkan perhatian maksimal dari pemerintah, sehingga hasil kerajinannya masih sebatas memenuhi kebutuhan warga di kecamatan setempat.

"Bila mendapat perhatian serius dari pemerintah, saya yakin usaha kerajinan warga tersebut akan bisa berkembang dalam upaya memenuhi kebutuhan ekonomi keluarganya," kata caleg DPR-RI nomor urut tiga.

Menurut Tutik Wardani, pengusaha kecil ini perlu mendapat sentuhan dan solusi pemasaran. Dengan pemasarannya diperluas maka kerajinan ini akan terus berkembang dan pada akhirnya berdampak pada perekonomian rakyat di desa tersebut.

"Memang perlu dibantu dalam bidang pemasarannya. Termasuk juga sentuhan teknologi agar menghasilkan karya berkualitas dan nilai seni tinggi," katanya. (WDY)

Pewarta: Oleh I Komang Suparta

Editor : I Gusti Bagus Widyantara


COPYRIGHT © ANTARA News Bali 2014